Rabu, 21 April 2021

Balada Hijrahku

20.57 0 Comments

 

Dulu, saya paling anti pakai rok, ah, apalagi pakai rok panjang, bakalan jadi ribet njelimet, susah mau beraktivitas. Ke mana-mana suka pakai celana jeans yang modelnya pensil. Lebih santai, simpel, pokoknya lebih gampang juga buat dipadukan sama baju atasan apa saja. Biasanya, saya pakai kemeja yang panjangnya tanggung, sampai pinggul, tidak menutupi bokong, pakai kerudung tipis dan nerawang, serba ketat, serba kecil, serba-serbi kayak serabi, tapi nggak enak dilihat apalagi dimakan.


Beruntung saya bertemu sama senior yang dengan susah payah menyesatkan, husttt, maksudnya menyesatkan ke jalan yang benar. Setiap kali berpapasan, diajak untuk ikut kajian, ikut diskusi, diarahkan untuk mentoring 
atau istilahnya liqo’, (baca:sekumpulan beberapa perempuan dalam satu lingkaran untuk sama-sama belajar menambah pengetahuan agama).Dan ikut kegiatan-kegitan sosial, amal, dan ibadah lainnya.


Setelah beberapa kali ikut liqo’, keinginan untuk ikut-ikutan berhijab mulai muncul, apalagi beberapa sohib saya sudah hijrah alias sudah menutup aurat dengan rapat, mengenakan hijab dan pakaian syar’i. Kadang, kalau lagi hangoutsaya jadi risih sama diri sendiri, duh, kayak langit dan bumi, jauh sekali bedanya. Saya yang jadi upik abu,  mereka yang jadi majikannya,  semacam beda kasta,  gitu.  Soalnya pakaian saya serba mini,  sedangkan pakaian mereka, longgar, tertutup rapi. Jadi merasa nggak sepadan.


Tapi,  syukurnya, punya banyak sahabat yang memotivasi, mendukung, mengajak, supaya saya segera berhijrah seperti mereka.Dan akhirnya dengan Rahmat Allah Subhanahu wa Ta'ala saya memutuskan untuk sepenuhnya menutup aurat. 


Sepekan berjalan dengan baik, ada banyak pujian yang berseliweran, serta ada banyak dukungan yang diberikan. Kami saling mengingatkan dan menguatkan.


Republika.co.id


Namun, setelah sepekan terlewati, saya kembali menggunakan celana jeans, saya padukan dengan baju atasan yang panjang sampai menutupi bokong, alasannya sih karena saya belum punya banyak pakaian syar’i. Jadi, celana jeans yang udah disembunyikan di bawah kasur, saya ambil lagi, saya kenakan lagi, menjelma seperti semula, kalau dipikir-pikir, dulu saya seperti power rangers ya, suka berubah-ubah gitu, hehehe. Sampai akhirnya saya gunting semua celana jeans saya, agar saat terbesit untuk mengenakannya lagi, hal itu tak mungkin saya lakukan. Legah, setengah belenggu saya, seakan lepas, saya mulai memantapkan hati lagi dan lagi. Dan tentunya, semakin berhemat, mengatur pengeluaran dengan ketat, supaya bisa disisihkan untuk membeli keperluan berhijab. Anak perantauan, memang punya kegalauan sendiri dalam mengatur keuangan. Ayo yang anak kos, pastilah tau ya. Soalnya, sudah rahasia umum, sih.


Memang ya, diawal, selain ilmu, pemahaman, dan dukungan, berhijab juga butuh biaya, itu anggapan saya dulu, padahal yang lebih penting itu, kemantapan hati dalam membuat keputusan haruslah Lillahi Ta’ala, insyaAllah selalu ada jalan bersama-Nya. Kenapa sih kalau mengenakan pakaian yang sama beberapa kali dalam sepekan? Apa jadi bisulan? Apa menjatuhkan harga diri? atau, takut dibilang, kamu yang kemarin, karena pakai pakaian yang itu-itu saja? Ya, saya pernah dikata begitu, tinggal pasang muka tembok atau memekakan telinga, jadi nggak sampai dibawa ke hati. Itu cuma pikiran yang melemahkan, bisa jadi karena tipu daya syaitan. Yang penting pakaian bersih, rapi, dan masih layak pakai.


Nah, setelah merasa yakin, mantap, dan teguh pendirian, dalam berhijab, tetap saja harus terus memperbaiki diri, belajar, dan meluruskan niat. Hakikatnya iman itu bisa naik turun, jadi senantiasa harus disegarkan kembali.

Pernah saat siang, panas terik, lagi musim kemarau panjang, waktu itu lagi di kampus, tiba-tiba seorang teman nyeletuk.

“Eh, apa gak gerah, siang bolong panasnya minta ampun gini pakai jilbab selebar ini? Kalau saya gak bakalan tahan”. Tangannya sambil menyentuh jilbab saya.

Spontan saya balas, dengan kata-kata yang nggak kalah menyakitkannya, melampiaskan kekesalan. 

“Jauh lebih panas api neraka 1000 kali lipat, ini mah belum ada apa-apanya, kamu gak bakalan sanggup di neraka”.

Kala itu, saya belum mampu mengendalikan diri, untuk bersikap tenang dan sewajarnya. Makhlum masih beranjak dewasa, kalau menurut teori perkembangan yang saya pelajari,  masa pubertas itu masa peralihan yang penuh dengan kebimbangan dan labil. (ngeles)

Menjadi seorang muslimah yang sedang berbenah diri memang tidak mudah, nggak jarang ada anggapan negatif, celaan, dan ucapan serta sikap yang melemahkan dari sekitar. Terlebih lagi jika datangnya dari keluarga sendiri, rasanya lebih sakit. Seperti saya, mulanya kedua orangtua nggak mendukung. Mereka khawatir kalau saya justru tersesat dengan aliran islam radikal. 


Kadang karena kurangnya pemahaman menjadikan seseorang bisa salah dalam memaknai dan menyimpulkan. Barangkali, itulah sebab kedua orangtua saya seolah nggak mendukung sepenuhnya tentang keputusan saya berhijab. Namun Alhamdulillahnya, situasi sekarang berubah. Kedua orangtua merupakan salah satu sumber kekuatan untuk menjadi seorang yang lebih baik lagi. Mereka sepenuhnya memberikan dukungan.  Maka, nikmat Tuhan kamu yang mana lagi yang kamu dustakan? Dan saya meyakini satu hal, semakin getir perjuangan, semakin manis hasil yang diperoleh.


Setelah tamat kuliah, saya bekerja di sebuah perusahaan swasta, satu prinsip yang saya pegang. Sesungguhnya rejeki itu datangnya hanya dari Allah, maka tiada yang bisa memberikan rejeki kepada saya kecuali atas kehendak-Nya. Jadi, sekiranya apa saja yang akan meruntuhkan prinsip yang sudah saya bangun, maka saya sudah mempersiapkan diri untuk keluar. Diantaranya prinsip itu adalah apapun yang terjadi saya tetap berhijab, nggak tabaruj, tidak salaman dengan lelaki yang bukan mahram.


Pengalaman, bebeapa rekan di kantor, mempermasalahkan tentang saya yang selalu mengenakan rok,  atas nama kebersamaan saya dikritisi saat ada kesepakatan dresscode yang memakai celana. Sampai dipersoalkan ke pimpinan. Syukurnya Beliau menghormati prinsip saya. 


Selain itu, ada rintangan lain. Mungkin karena saya dianggap sebuah ancaman, makanya responnya agak berlebihan. Padahal saya bukan preman jalanan, malah, muka saya semanis madu, yang sama sekali tak menyeramkan, justru meneduhkan, hihihi, payung kali, ah. Seorang rekan yang dia lagi, dia lagi. Seolah, meminta saya untuk tidak menunjukkan kemuslimah-an saya, lah piye iki, kewajiban perempuan muslim, salah satunya, ya menutup aurat, dari kepala sampai kaki, kecuali wajah dan telapak tangan yang boleh terlihat, masa iya, saya harus jadi lelaki, menentang kodrat. Tak habis pikir, tuh orang kelihatannya keki berat sama saya, padahal saya manusia biasa bukan artis yang lagi naik daun.


Setiap orang berkewajiban entah itu dia orang baik, atau setengah baik, saleh, atau setengah saleh, untuk berdakwah, menyampaikan kebaikan dan kebenaran, walaupun cuma satu ayat. Kita yang muslim sudah pada tau, hal itu.  Tetapi seorang rekan saya itu, bukan seorang muslim, makanya saya sering tak ambil pusing, biar dia yang pusing sendiri mikirin saya.


Itu sepenggal cerita dari saya,perjuangan belum berakhir atau bahkan baru akan dimulai. Terpenting,  jangan berhenti  meminta kekuatan kepada Allah. 

“Semoga saya dan seluruh muslimah di dunia, yang akan dan sudah berhijab, senantiasa diberikan kemantapan hati dan kekuatan untuk istiqomah, terus berbenah diri, sampai mati”.


(Tulisan lama, pernah diikutsertakan dalam lomba)

#Lombamenulis

#Inspiringjilbab

#pasmirajilbabenak

#muslimahpreneur

Sempat Gamang. Akhirnya Nyemplung Juga Jadi Guru

20.43 0 Comments

 

Pahamify.com

Jadi guru? Olala... Malah saya berencana setelah menyelesaikan S1 Psikologi mau melanjut S2. Jurusan Perkembangan. Saya suka belajar ilmu parenting. Sebagai bekal jika saya sudah menikah dan memiliki anak. Ibu Elly Risman termasuk tokoh yang saya kagumi. Ayah Edy juga, saya sering mengikuti chanelnya Indonesian Strong From Home. Seru sekali belajar mendidik anak dengan baik. Berharap setelah jadi psikolog, dinikahi seorang laki-laki lalu punya anak banyak dan saya bisa menerapkan ilmu yang saya peroleh selama S2. Rencana yang sempurna bukan? Hahaha... Jika saya ingat-ingat lagi mimpi saya ini, rasanya konyol sekali.

 Namun jika kondisi tidak memungkinkan, saya akan berusaha mencari kerja, dengan posisi sebagai HRD atau yang berhubungan dengan SDM di sebuah perusahaan besar milik asing. Berharap akan mendapat gaji tinggi, kesempatan berkarir kejenjang yang lebih baik, kedudukan strategis, mapan, biar nantinya bisa memenuhi kebutuhan keluarga.

Setelah modal hidup cukup akan mendedikasikan diri sebagai praktisi anak. Ini juga rencana yang tak kalah sempurnanyakan? Dan pilihan jadi guru sama sekali tidak ada di dalam benak saya sebelumnya.

 

Untuk apa repot-repot menjadi seorang guru?

 

Gaji guru berapa sih? sempat tiga kali saya menolak tawaran kerja jadi Guru Bimbingan Konseling (BK) karena gajinya kecil. Saya perkirakan untuk transportasi dan makan saja tidak mencukupi, bagaimana pula untuk kebutuhan lainnya. Sementara itu, saya akan mengorbankan pikiran, tenaga, dan waktu. Apa nanti saya akan ikhlas? Rasanya sulit. Maka saya akan rugi tiga kali lipat, jika bekerja tapi tidak ikhlas.

Ok saya tahu, jadi guru itu pekerjaan yang mulia. Banyak pahalanya. Bermanfaat hidupnya untuk orang banyak. Insyaa Allah. Tapi saya belum mampu melakukan demikian, mengabdi sepenuh hati, melayani, melibatkan jiwa dan raga untuk mengutamakan kepentingan anak didiknya. Maka layaklah seorang guru itu dinobatkan sebagai pahlawan. Saya sangat sepakat dengan itu.

Saat Tuhan berkata lain.

Bagaimana perasaanmu jika seolah Tuhan mengabaikanmu, tidak mengabulkan pintamu? Apa kamu akan marah? Ya, itulah yang saya lakukan. Saya marah. Serta beranggapan bahwa Tuhan itu pilih kasih. Kesempatan S2 gagal, karena biaya. Kesempatan berkarir sebagai HRD kandas, tak ada kejelasan. Kehidupan macam apa ini? Padahal, saya sudah merencanakan hal baik, kenapa Tuhan tidak memahami.

Disaat kondisi kalut. Saya bersyukur dikelilingi orang-orang hebat. Yang akhirnya pelan-pelan membuat saya sadar, saya sudah keliru memaknai kasih sayang Tuhan. Seorang sahabat mengingatkan.

"Sesuatu yang menurut kita baik, belum tentu baik dimata Tuhan. Dan yang menurut kita buruk, belum tentu buruk dimata Tuhan."

Kemudian saya berpikir, kenapa saya keukeh sama keinginan sendiri, padahal Tuhan telah menyiapkan rencana terbaiknya untuk saya. Bodoh. Jika saya terus memaksakan kehendak diri. Tuhan lebih mengetahui apa yang terbaik untuk hambanya.

Bukankah sampai detik ini saya tetap hidup dengan baik? Ada keluarga, sahabat, guru, yang setia mendampingi. Walaupun  saya belum jadi apa-apa. Mereka semua tulus menerima saya.

Maka nikmat mana lagi yang saya dustakan? Terlebih lagi nikmat iman, Tuhan Maha Baik, saya tetap ditunjuki jalan yang lurus, diatas Islam.

 

Yang melatarbelakangi sampai memutuskan menjadi guru.

Setahun saya freelance dibeberapa Biro Psikologi, sambil menunggu panggilan kerja. Juga menjalankan usaha cokelat yang dulu dijalankan kami bertiga (Saya dan kedua teman saya itu Wildha dan Faadhil), Wildha disibukkan dengan skripsinya, sehingga tidak bisa membantu sedangkan Faadhil disibukkan urusan melanjut S2 ke Yogya.

Akhirnya, saya sendiri. Berusaha tetap melanjutkan usaha cokelat. Dulu banget saya pernah bermimpi jadi pengusaha. Sosok Ipho Santosa adalah idola saya. Bermimpi menjadi seorang entrepreneur hebat berdompet tebal dan bolak balik ke luar negeri mengembangkan bisnis.  Sayangnya, saya ini tidak tau diri, saya lupa menakar antara mimpi dengan kemampuan yang dimiliki. Terlalu muluk-muluk, Hahaha.. Jadinya setengah-setengah, hasilnya jauh dari harapan.  Hinggga akhir tahun 2013 saya menyerah.

Saya introspeksi diri. Jangan-jangan ada yang salah sama diri saya. Mungkin saya lupa bersyukur. Saya terlalu disibukkan urusan dunia. Sehingga semakin jauh dari Tuhan. Lupa bahwa ketika kita sibuk mengejar akhirat maka dunia juga akan kita takhlukan. Tapi jika sibuk mengejar dunia, kita melupakan akhirat.

"Kenapa kebanyakan manusia sibuk sekali mengurusi urusan yang sudah ditetapkan sama Tuhan?"

Seperti ditampar muka saya. Saya menyadari banyak yang harus saya benahi.

Tak lama, Ayah menawarkan untuk membantu saya bekerja di perusahaan yang sama dengannya Perkebunan Kelapa Sawit yang dikelola swasta. Tapi sebagai guru. Karena perusahaan juga menyediakan sekolah sebagai fasilitas pendidikan anak karyawan. Jadi status guru adalah karyawan perkebunan.


Inilah permulaannya

Hah, apa bisa saya jadi guru? Apa bisa saya mengajar dengan baik? Kekhawatiran bermunculan. Pastinya keputusan jadi guru bukan urusan main-main dan tidak sederhana. Mengarahkan, membimbing, memberitahukan, melayani siswa dan   melakukan segala sesuatu dengan ikhlas, itu adalah hal luar biasa yang belum pernah saya rencanakan.

Lalu gerak-gerik tingkah laku saya akan menjadi sangat penting dijaga, karena akan berdampak kepada siswa yang memperhatikan. Kekhawatiran saya selanjutnya, adalah  takut tidak sanggup menangani permasalahan siswa dengan maksimal. Apakah saya benar-benar bisa diandalkan? Tiba-tiba saya kehilangan kepercayaan diri.

(lagi) saya bersyukur berada ditengah orang-orang yang menyayangi saya. Mereka menguatkan dan meyakinkan saya, kalau saya akan mampu menjalaninya. Saya bisa jadi guru. Yang penting bukan hanya jadi pengajar melainkan sekaligus jadi pembelajar sejati yang terus belajar sampai mati. Diniatkan semata mencari Ridha Ilahi.

Teman saya mengingatkan.

"Bukankah manusia terbaik adalah manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya? Dan menjadi seorang guru salah satu jalan meraihnya."

Kesempatan untuk menjadi manusia yang bermanfaat bisa dilakukan dengan menjadi guru. Ini peluang berharga yang ditawarkan Tuhan. Sayang kalau dilewatkan. Lagian gaji seorang karyawan lumayan, sesuai UMR. Dan saya bisa membantu keluarga dan sedikit menabung. Akhirnya saya memberanikan diri untuk mencoba. Dan saya diterima.  

 

Persoalan internal diri yang harus diatasi terlebih dulu.

Belajar mengikhlaskan itu butuh waktu. Menerima dan memahami segala sesuatu yang tak sesuai mau itu pelan-pelan. Saya harus mulai dari itu. Insyaa Allah saya siap jadi guru, saya gak tau kedepannya bagaimana mungkin saja akan ada banyak tantangan yang kelak akan membesarkan saya.


Pengalaman pertama saya menjadi guru bimbingan konseling (BK) 

Hari pertama saya masuk. Sudah dihadapkan satu kasus. Ada seorang siswa laki-laki melakukan pelecehan kepada teman perempuannya. Kepala sekolah langsung meminta saya menangani.

Luar biasa. Saya shock. Berani sekali ia memegang payudara temannya. Setelah saya wawancara, dia mengaku sering menonton video pornografi. Jujur waktu itu saya bingung siswa ini mau diapakan, terlebih lagi kepada siswa yang dilecehkan. Mana yang harus saya tangani terlebih dulu. Keduanya perlu dikonseling. Untungnya wakil kepala sekolah kesiswaan langsung membantu.

Selang beberapa minggu, ada kasus lagi. Seorang siswa laki-laki kedapatan mencuri celana dalam milik tetangganya. Setelah saya wawancarai, ia mengaku bukan mau mencuri hanya ingin meminjam sebentar nanti dikembalikan setelah ia menciuminya. Kasus ini saya konsultasikan dengan senior S2. Supaya bisa ditangani dengan baik.

Saya berpikir, kehidupan seperti apa yang akan saya jalani di sini. Jauh dari keluarga, hidup sendiri di daerah pelosok, masalah siswa yang saya belum tentu bisa menangani. Seketika saya jadi pesimis. Apakah keputusan saya mengajar ini benar. Saya sudah terlanjur masuk. Tak ada jalan lain, selain meminta petunjuk sama Allah.

Saya meyakini bahwa dimana ada niat dan kemauan yang baik, maka akan ada jalan keluar. Saya sempat kesulitan menangani kasus siswa. Tapi saya yakin Allah akan bantu saya menyelesaikan. Saya hanya perlu berusaha dan terus meluruskan niat, kenapa saya jadi guru.

Selama kehidupan di dunia ini ada. Selama itu pula masalah akan tetap ada. Manusia hanya perlu menjalani, ikhtiar sungguh-sungguh, berdoa kepada Allah dan berserah diri.

 

Menyesuaikan diri di sekolah.

Masuk ke dalam lingkungan baru, memiliki tantangan tersendiri. Belajar beradaptasi, menyesuaikan diri dengan kondisi. Mulai dari proses pengenalan, menciptakan komunikasi yang baik, membentuk kepedulian serta membangun keyakinan dengan siswa maupun dengan para guru, staf pendidik dan kependidikan sekolah.

Saya lebih mudah menyesuaikan diri dengan siswa daripada dengan rekan guru. Saya canggung berhadapan dengan para guru senior. Tapi lambat laun, saya bisa menyesuaikan diri dengan baik. Perjuangan memang tak akan mengkhianati hasil. Yang penting kedepankan prasangka baik, optimis, rendah hati, terbuka, dan mau belajar. Apalagi guru BK itu memang harus menjalin kerjasama dengan wali kelas dan pihak lainnya. Demi menangani permasalahan siswa.

 

Menghadapi berbagai tingkahlaku siswa memasuki masa pubertas.

Masa remaja dikatakan pula masa peralihan, dari fase kanak-kanak menuju fase dewasa. Masa pencarian  jati diri. Para remaja mengalami kebingungan dan perlu mendapatkan bimbingan. Bersikap egosentris (berpusat pada pemikirannya), seolah merasa paling benar atau hebat, merasa serba tau dan memiliki penasaran tinggi.

Perlu dipahami juga masa remaja adalah masa yang penting, selain masa peralihan, masa remaja juga masa perubahan. Maksudnya remaja sebagai usia bermasalah, menimbulkan ketakutan, tidak realistis, karena masa remaja itu masa ambang dewasa.

Pertama kali mengajar saya baru memasuki usia 23 tahun. Menghadapi anak SMA yang usianya tidak jauh dari saya merupakan tantangan tersendiri. Tak jarang saya dicadai mereka. Apalagi siswa laki-laki, saya harus tahan mental menghadapi mereka.

Akhir januari tahun 2018 ini genap empat tahun saya mengajar. Setiap tahunnya selalu ada siswa yang gagal menamatkan sekolah disebabkan married by accident (MBA). Bukan hanya terjadi di tingkat SMA melainkan SMP juga.

Jika disurvei, siswa yang tidak pacaran jumlahnya terbilang rendah dibandingkan siswa yang pacaran. Hal ini merupakan PR besar saya.

 

Menemukan kebahagian menjadi guru.

Menjadi guru itu istimewa. Walaupun diawal saya menceritakan banyak halang rintang yang saya hadapi. Tak bisa dipungkiri, ada kenikmatan tersendiri di dalam aktivitas mengajar. Selama empat tahun jadi guru, ada suka dan duka yang silih berganti. Apalagi karena kondisi guru yang tak mencukupi saya diamanahi sebagai wali kelas. Saya bisa lebih sering berinteraksi dengan siswa.

Menghadapi anak remaja itu 'susah-susah gampang' ya. Saya harus mengambil perhatian dan hati mereka dulu, setelah itu bisa diarahkan. Saya juga sering mengajak mereka diskusi, disela waktu luang, agar tau lebih banyak bagaimana cara mereka berpikir atau sekadar ingin tau apa yang sedang mereka minati. Dan itu menyenangkan, berbaur dengan mereka untuk saling berbagi cerita.

Sebagian siswa menanggapi dengan positif selebihnya ada yang negatif. Nah, di sini saya harus belajar membaca situasi, tentunya manusia itu adalah individual difference. Jika respon setiap siswa berbeda, itu wajar. Maka saya yang harus mengkondisikan sesuai kepribadian mereka.

Ada siswa suka diajak bergurau, ada juga suka diajak diskusi, ada yang suka diperhatikan, ditanyai keseharian, ada yang suka mengobrol, ada juga yang malas diajak cerita, apalagi mengenai pribadinya, tapi ada sebaliknya suka curhat. Ada yang suka merajuk, ada yang suka marah, ada yang ceria, lasak, pendiam, sendirian tidak suka ramai dan sebagainya. Komplit. Hal lain, tentunya berbeda menghadapi anak kelas X dengan kelas XI dan XII. Saya temukan banyak ragam karakter manusia di sekolah. Berada di antara mereka adalah hal menyenangkan yang saya tunggu setiap hari.

 

Gara-gara penasaran! tragedi jilid satu.

Baru-baru ini, lima orang siswa membantu saya menanam pohon kelor di halaman depan kelas, belum siap mereka menanam saya tinggal ke kelas untuk memberikan arahan kepada siswa lain. Beberapa menit kemudian salah satu siswa melapor, tergesa-gesa mukanya pucat, ternyata ada kabel putus karena mereka cangkul.

Setelah saya lihat langsung, sebagian dari mereka masih terlihat takut. Diantara mereka memberitahu tadi ada api keluar, karena penasaran, salah satu siswa ada yang menyentuh kabel, langsung kesetrum. Saya berusaha tenang padahal jantung mau copot mendengarkan penjelasan mereka. Syukurnya tegangan listrik tidak tinggi, mungkin kalau aliran listrik dari PLN akan fatal akibatnya.

Hebatnya kelima siswa saya itu, cepat memecahkan suasana dengan guyonan, kami menghibur diri situasi kembali tenang. Namun, sampai saat ini jika saya ingat kejadian itu konyol sekali. Gara-gara penasaran bisa mengundang bahaya.

 

Penasaran jilid dua

Sebelum tragedi kabel putus, satu siswa laki-laki memecahkan kaca bingkai foto yang ada di ruang kelas. Saya jumpai bingkainya tergantung tapi kacanya tidak ada. Saya tanyai kenapa bisa pecah, jawabannya sederhana gara-gara penasaran, bingkainya berkaca atau tidak. Jadi dilempar pakai kayu. Tadinya saya mau marah, tapi malah jadi ceramah panjang lebar menjelaskan pentingnya penasaran dikelola dengan baik.

Sebenarnya masih banyak lagi contoh akibat dari rasa penasaran seperti pacaran, merokok, mengonsumsi NARKOBA, minuman keras dan lain- lain yang sebagian besar bermula karena coba-coba, sebagain lagi karena faktor lingkungan.

Penasaran itu penting, hanya saja harus dimanfaatkan dengan baik. Agar tidak mencelakakan diri. Memberikan pemahaman dan pengarahan kepada siswa itu tidak mudah. Berproses. Tahap demi tahap. Di sini saya berlatih sabar.

 

Lebih baik menghabiskan waktu di sekolah.

Lebih baik lelah fisik daripada lelah pikiran. Saya lebih senang berada di sekolah daripada di rumah. Banyak yang bisa saya kerjakan. Selain itu, saya punya teman cerita. Jam istirahat saya lebih sering bersama siswa.

Saya ini anak perantauan, tinggal sendiri, tak banyak yang bisa saya lakukan selain mengajar. Tinggal di dalam perkebunan, jauh dari keramaian kota. Tak ada kegiatan lain yang bisa saya ikuti. Berada di sekolah membuat saya tak sempat memikirkan hal-hal aneh, yang melemahkan. Saya menemukan kebahagian berada di sekolah.

 

Hikmah dibalik kesempatan yang Allah takdirkan.

"Jangan tergesa-gesa merajuk kepada Tuhan, bisa jadi karena kita tak paham kasih sayang yang diberikanNya."

Salah satu hikmah yang bisa saya ambil. Seharusnya saya bersyukur atas segala karunia yang sudah diberikan Tuhan.

Waktu itu usia saya baru 23 tahun, tapi saya sudah diberi kesempatan untuk menjadi guru. Di saat teman yang sepantaran sibuk memperindah fisik, saya malah sibuk memperbaiki tingkahlaku serta belajar sebanyak mungkin. Agar nanti ketika berhadapan dengan siswa saya mampu mengajarkan yang terbaik.

Selain itu, saya punya kesempatan berguna bagi orang lain. Bukankah sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat untuk manusia lainnya? Luar biasa Allah memudahkan langkah saya. Saya berharap ilmu dan pengalaman yang saya bagikan akan berguna untuk siswa saya semuanya. Bagi seorang guru, keberhasilan siswa merupakan kebahagiaannya juga. Dan sebaliknya kegagalan siswa juga kegagalan bagi gurunya.

Mulia seorang guru, tidak hanya untuk kehidupan dunia melainkan berguna untuk kehidupan akhirat. Insyaa Allah. Semoga Allah meridhai.

Jumat, 10 Juli 2020

Hindari Makanan Ini. Keluhan Sakit Di Badanmu Kabur

08.15 2 Comments

Diawal berniat ingin mengubah gaya hidup yang lebih sehat, saya bukan langsung berhenti makan nasi. Alasannya Klik di sini. Saking candunya makan nasi, saya ganti nasi putih dengan nasi merah yang dipercaya jauh lebih sehat dan aman. Dan sekarang saya baru sadar ternyata selama ini jadi korban banyak produsen makanan.

Langkah awal

Mengurangi bahkan berhenti makan makanan kesukaan. Lho? Ya karena, saya adalah manusia kekinian yang keblinger makanan pabrikan: biskuit, roti, snack, coklat, keju, susu, yogurt, ice cream, dan masih banyak lagi. Itu semua makanan favorit sehari-hari.

Kadang bingung, adakah makanan yang tidak saya sukai? Oh ingat, dulu saya anti sekali sama bawang merah, bawang putih, kalau ada dua makhluk itu kelihatan di makanan, mau selezat apapun, jadi takut makannya. Berbanding terbalik dengan kondisi sekarang, masakan dengan aroma dan rasa yang kuat dari bawang malah menambah selera. Sudah seharusnya ya memilih realfood, daripada zunkfood.

Kembali lagi kepersoalan kebiasaan saya yang doyan makan. Dalam kondisi stres pun saya masih doyan makan, malah lebih rakus dari biasanya.

Kalau diingat-ingat, inilah salah satu kebiasaan yang membuat saya menderita GERD. Makan berlebihan dan kurang memperhatikan apakah makanan itu toyyib atau tidak. Asal mulut ingin makan selalu dituruti. Jadi bukan karena telat makan ya yang buat sakit. Malah telat sedikit bagus lho. Misal dipagi hari kita melakukan diet puasa atau intermittent fasting (IF) Berhenti makan dalam beberapa waktu, biasanya dipagi hari. Selama IF dianjurkan lebih banyak minum air putih. Setiap 15 menit sekali minimal minum 2-3 teguk air hangat. Sampai seberapa sanggupnya. Kalau saya, biasanya brunch mulai pukul 10.00. Wib. Setelah jalan kaki dan berjemur. Atau kadang bisa dibawah jam 10 atau malah di atas jam 10 tergantung kondisi tubuh.

Nah, saat brunch apa yang saya makan?

Tergantung stok yang ada. Kalau ada buah, ya saya makan buah. Kalau yang ada sayur, biasanya saya buat smoothies atau salad. Pokoknya makanan yang mudah dicerna.

Salad 

Smoothies


Daftar makanan yang saya eliminasi, episode pertama:

1. Produk Dairy dan turunannya.
2. Tepung Terigu
3. Gula Pasir

Saya mulai dengan berhenti makan ketiga makanan itu. Dan akhirnya makanan favorit yang saya tuliskan di atas, terjaring semua. Diawal cukup 3 saja dulu ya. Kalau sudah terbiasa baru masuk ketahap selanjutnya.

Sabtu, 20 Juni 2020

Ini Alasan Saya Berhenti Makan Nasi

01.47 6 Comments
Sumber: Brilio.net

"Mau diet ya?"
"Duh, kurang langsing gimana lagi sih."
"Nggak makan nasi entar sakit baru tahu!"
Diawal saya agak kelabakan menanggapi berbagai komentar, kalau sekarang sudah bisa dibawa santai. Semua butuh proses dan biarkan hasil yang berbicara.

Alasan Saya Tak Makan Nasi

Alasan sederhananya karena saya sakit dan ingin sehat. Sederhana sekalikan? 

lha jadi terbalik ya, kalau orang lain makan nasi supaya tak sakit, kalau saya lain, karena ingin sehat maka berhenti makan nasi. 

Jadi saya ingin balik tanya, kenapa sih kita harus rutin makan nasi, setiap hari, pagi, siang, malam? Ayo kenapa? 


Kenalan Dulu Sama Nasi

Alasan pertama:

Nasi termasuk golongan biji-bijian. Entah itu nasi putih, merah, coklat, maupun hitam, asal nasi tetap sama. Bedanya di kandungan gizi karena proses penanaman. Biji-bijian, kacang-kacangan merupakan makanan yang sulit dicerna apalagi oleh pencernaan yang sensitif, atau yang punya masalah GERD (gastroesophageal reflux disease) yaitu penyakit asam lambung disebabkan oleh melemahnya katup atau sfingter yang terletak di kerongkongan bagian bawah.

Kenapa biji-bijian susah dicerna oleh manusia? Jawaban sederhananya karena biji-bijian adalah makanan pokok unggas. Mereka punya tembolok sebagai tempat penyimpanan makanan sementara untuk dilunakkan. Kalau manusia makan nasi setiap hari, pagi, siang, malam, bahkan sepanjang hidup, apa kita mau saingan sama ayam? 

Biji-bijian itu punya kulit yang fungsinya untuk menjaga struktur kekakuan atau bertindak sebagai kerangka. Kulitnya mengandung selulosa sehingga sulit dipecah oleh enzim. 

Alasan Kedua:

Nasi merupakan makanan pokok banyak negara, khususnya Asia. Kebutuhan akan nasi sangat tinggi. Itu membuat produsen beras harus memastikan hasil panennya bagus. Serta meminimalisir gagal panen.

Pernah dengar istilah GMO, kan? (Genetically Modified Organism
yaitu organisme yang secara genetik telah dimodifikasi menggunakan teknik rekayasa genetika dengan cara mentransfer, mengubah, menambah, mengurangi DNA suatu makhluk hidup, terhadap makhluk hidup lainnya. Dengan tujuan agar makhluk hidup tersebut dapat lebih kuat, kebal, dan produktif. Metode ini juga bisa menciptakan spesies dan sub-spesies baru. Istilah lainnya makanan transgenik. Kalian bisa baca postingan instagramnya dr. Herlin Ramadhanti di sini.

Siapa yang merekayasa? Kalian bisa search di google. 

Padi termasuk produk GMO, khususnya beras import ya, karena memang yang melakukan GMO perusahaan luar negeri. Kalau padi yang ditanam di kampung beda. Tumbuh lebih alami, meskipun ada juga yang menggunakan pestisida kimia sebagai pelindung dari hama.

Jadi masalahnya apa kalau padi yang banyak dijual dipasaran merupakan produk GMO?

Sebenarnya efek pada manusia sulit dideteksi dan prosesnya lama. Maka produk GMO diujicobakan pada tikus. dr. Herlin Ramadhanti menjelaskan isi buku dr. Jeffrey Smith yang berjudul Seeds of Deception dan Genetik Roulette, ada 65 risiko serius akibat mengkonsumsi produk GMO, berikut beberapa diantaranya: 

  1. Tikus yang diberi makan transgenik menunjukkan peningkatan lima kali berisiko kematian, bayi yang dilahirkan tidak cukup berat badan, serta tidak mampu berproduksi.
  2. tikus jantan yang diber makanan transgenik, mengalami kerusakan sel-sel sperma muda.
  3. Dapat mengubah fungsi DNA embrio tikus.
  4. Petani AS telah melaporkan masalah kemandulan antara babi dan sapi yang diberikan makanan trangenik. 
  5. Penyidik di India telah mendokumentasikan masalah kesuburan, aborsi, kelahiran prematur serta kematian pada kerbau.
  6. Hewan yang diberi makanan transgenik mengalami pendarahan perut. Berpotensi tumbuhnya sel kanker, kerusakan organ, memperburuk sistem kekebalan, peradangan ginjal, masaslah dengan darah, sel hati, dan kematian yang tak dapat dijelaskan.
  7. Gen dari tanaman GMO mentransfer bakteri ke usus manusia yang mungkin akan mengubah flora usus menjadi hidup seperti pabrik pestisida.
Selain itu dr Smith Jeffrey mengatakan, makanan transgenik dapat menyebabkan: Alergi, Toxic, Karsinogenik (pemicu kanker), anti gizi.

Dulu saya bingung, beberapa orang yang dijumpai, menderita kanker, liver, dan penyakit serius lainnya, setelah berobat ke rumah sakit, mereka dilarang makan nasi. Setelah baca postingan dr. Herlin Ramadhanti saya mulai 'ngeh'.


Alasan Ketiga:

Makan nasi setiap hari ternyata bisa membuat perut buncit, lama-lama jadi gendut. Lha kok bisa? Ada penumpukkan karbohidrat yang tidak diperlukan tubuh. Belum siap pencernaan memproses kita sudah makan lagi, belum lagi BAB kita sudah makan lagi.  Ditambah lagi tidak diimbangi dengan gerak tubuh yang cukup. Jelas ini membuat penumpukkan di dalam perut. Makan nasi tiga kali dalam sehari kebanyakan, belum lagi sayur dan lauk yang kita makan juga mengandung karbohidrat. Agar sehat tubuh kita harus lengkap kandungan gizinya, harus ada vitamin, mineral, protein, lemak, dan sebagainya. 

Dengan ketiga alasan di atas, apa masih mau makan nasi setiap hari?

Jadi Nggak Makan Nasi Gimana, Dong?

Ya nggak gimana-gimana ya. Ada banyak makanan karbohidrat kompleks yang lebih ramah bagi pencernaan. Yaitu Umbi-umbian: ada singkong, ubi jalar, keladi, kentang. Khusus kentang saya makan dengan porsi sedikit. Penasaran kenapa? Kalian bisa bertanya di kolom komentar. 

Makanan Hari-Hari Apa?

Tak makan nasi tak kenyanglah. Masa sih? Makan sayur, buah, dan ikan, tetap tak kenyang? Bisa jadid masalahnya ada di-mindset atau belum tahu cara menyiapkan menu yang lengkap gizinya. 

Logikanya kenapa tubuh sering lapar, lapar itu sinyal dari otak, atas laporan tubuh, bahwa kebutuhan nutrisi tubuh belum terpenuhi. Jadi makan banyak bukan berarti bisa buat perut kenyang lebih lama. 

Yang penting bukan seberapa banyak yang dimakan, melainkan seberapa banyak nutrisi yang kita masukkan ke dalam mulut. 

Mau tahu menu hari-hari saya? Kalian bisa buka akun instagramnya Ibu Putu Kardha, di sini. Beliau mentor saya yang luar biasa. Mengajarkan hidup supaya sesuai kodratnya manusia. 






Rabu, 25 Maret 2020

Pencernaan Bahagia, Makan Sayur Mentah.

23.56 1 Comments
"Makan sayur mentah?"
"Iya, kenapa?"
"Jangan ngalahi kambing, dong."

Sebagian masyarakat masih ragu untuk makan sayur mentah, beragam alasan mulai dari takut bahaya pestisida, bakteri, atau keracunan. Padahal pestisida juga tidak hilang saat dimasak. Sedangkan jika kita mencuci sayur dengan benar dan tahu sayuran apa yang bisa dimakan mentah, efek positif akan segera kita rasakan. Terlebih lagi pada penderita penyakit serius, seperti kanker, makan sayur mentah sekitar 80% akan membantu proses penyembuhan.

Pada dasarnya vitamin mudah teroksidasi, sayur yang dimasak jelas berkurang zat vitaminnya. Ada alternatif cara makan sayur untuk mendapatkan vitaminnya dalam jumlah besar yaitu dibuat smoothie atau jus, meskipun masih lebih baik saat makan dalam bentuk yang utuh.

Setiap tanaman punya racun alami, oleh karena itu, makan sayur harus bervariasi, supaya racun alami tidak menumpuk di dalam tubuh. Dan tubuh mendapat nutrisi yang cukup.

Berikut beberapa resep green smoothies dan jus yang saya suka, yang mungkin bisa dijadikan inspirasi.

Green smoothies

1. Bahan: Pokcoy, Timun, air kelapa muda, alpukat, tambahkan cuka apel, minyak zaitun/VCO
(Air kelapa bisa diganti dengan air biasa)

2. Bahan: Daun Katuk, Daun Kare, Daun Kemangi, Timun, air kelapa, VCO/Minyak Zaitun.

3. Bahan: Bayam, sawi, timun, VCO, Air kelapa.

(Dan sebenarnya masih banyak lagi sayuran yang bisa dibuat smoothie, asal jangan daun singkong ya)

Jus

1. Bahan: wortel, bit, bengkuang, air, VCO.

2. Bahan: Jahe, Bengkuang. (Susu Jabeng)

Selain dibuat smoothie atau jus, membuat salad juga bisa sebagai alternatif. Kebiasaan orang-orang Mediterania makan salad, membuat mereka dijuluki sebagai pola makan yang paling sehat di dunia. Saya kutip dari klik di sini

Diawal mencoba mungkin lidah kita butuh penyesuaian, membentuk kebiasaan pola makan yang baru butuh waktu, jadi lakukan dengan santai sealami mungkin ya, pelan-pelan tubuh kita akan terbiasa. 

Benarkah Masalah Orang Dewasa Lebih Rumit?

17.02 3 Comments
Sumber: pinterest.com

"Biasalah masalah anak-anak, kok."

Beberapa orangtua masih menganggap remeh masalah yang dihadapi anak-anak. Saat anak mulai terlibat percekcokan dengan teman sebaya, atau menunjukkan sikap dekstruktif, orangtua mulai marah kepada mereka, melerai, tapi tidak berusaha mencari akar masalah dan memberi solusi yang tepat, memberikan pemahaman yang baik, sebagai tindakan pencegahan aksi yang lebih ekstrim.

Orang dewasa sering berpikir masalah yang tengah dihadapinya lebih rumit daripada masalah yang dihadapi remaja atau bahkan anak-anak. Benarkah pendapat semacam itu? 
Bukankah tidak ada masalah kecil atau remeh, setiap masalah sudah sesuai dengan takaran masing-masing? Dan setiap masalah membutuhkan jalan penyelesaian. 

Bisa saja karena sikap acuh tak acuh orangtua, anak mulai mengambil tindakan sendiri yang mungkin akan merugikan dirinya atau orang lain. Baru-baru ini kita dikejutkan kasus anak perempuan berusia 15 tahun membunuh anak berusia 6 tahun dengan sadis, di kawasan Sawah Besar Jakarta Pusat, pada kamis (5/03/2020). (Dikutip dari media suara.com). Melihat kondisi ini, orangtua harus lebih ekstra mengawasi perilaku anak-anak. Agar hari-hari kedepan, anak -anak tumbuh dengan semestinya, dipenuhi hal-hal yang membahagiakan, sehingga menjadi pribadi yang positif. 

Ada sebuah kasus:
"Seorang anak menggigit temannya karena Ia kesal temannya tidak mau berbagi dan main bersama. Padahal hari-hari Ia termasuk anak baik, yang suka berbagi. Tapi karena Ia tidak mendapatkan perlakuan yang sama, Ia tak bisa mengendalikan emosi marah."

Nampaknya sederhana ya kasus diatas? Tapi itu adalah cikal bakal permasalahan yang lebih serius. Jika kondisi itu terjadi berulangkali, dan si anak juga tidak mampu menanggapi dengan positif, maka akan memengaruhi karakternya. Yang tadinya Ia suka berbagi, karena kesal, mulai muncul hasrat balas dendam, bisa jadi Ia melakukan hal yang serupa. 

Lebih mudah belajar dari pengalaman, entah itu pengalaman yang baik atau buruk. Setiap pengalaman adalah pelajaran hidup. Dan anak-anak juga akan belajar dengan kemampuan berpikirnya yang terbatas. 

Nah, jadi orangtua ternyata tidak gampang ya? Butuh pembekalan ilmu yang mumpuni. 

Minggu, 08 Maret 2020

Kebiasaan Ini Membuatmu Awet Muda dan Hidup Bahagia

18.14 12 Comments


Setiap orang maunya tetap kelihatan muda, walaupun usia sudah tidak belia. Tapi seberapa banyak yang melakukan sesuatu untuk mewujudkan? Kebanyakan hanya sekadar ingin, tanpa aksi. Kalau kamu termasuk yang mana?

"Hasil tidak akan mengkhianati usaha, kamu setujukan?"

Ini beberapa jurus yang dapat dilakukan supaya awet muda dan hidup bahagia: 

Yang pertama, harus lebih banyak berpikir positif, bisa mengolah pikiran dengan baik, supaya tidak mudah distress (stres negatif). Salah satu cara sederhananya dengan menyibukkan diri melakukan kegiatan sesuai passion.

Kalau sudah melakukan demikian apakah setiap hari akan selalu berpikir positif? Tentu tidak, kita butuh ilmu yang kompleks untuk sampai pada taraf mampu mengendalikan pikiran negatif. Kita butuh lingkungan, seseorang bahkan buku untuk belajar. Misalnya salah satu buku yang saya rekomendasikan adalah "Terapi Berpikir Positif - karya DR. Ibrahim ElFiky" Buku-buku Beliau menggerakkan saya untuk segera memperbaiki diri.


Yang kedua, rajin bergerak alias olahraga secara rutin. Semakin banyak gerak, maka hormon endorfin (hormon kebahagiaan) semakin meningkat, sedangkan homon kortisol (yang memicu stres) semakin berkurang.

Sekalian mandi matahari (berjemur) minimal 15 menit/hari. Adapun tergantung warna kulit, yang pigmennya lebih banyak (sawo matang) butuh waktu berjemur lebih lama sedangkan kulit yang lebih cerah sebaliknya waktu berjemur lebih singkat. Kekurangan sinar matahari sama bahayanya dengan kelebihan sinar matahari. Untuk mengetahui apakah kita bejemur pada waktu yang tepat saat kualitas sinar matahari yang paling baik. Kita bisa menggunakan aplikasi UVImate yang bisa diunduh di smartphone kamu.

Yang ketiga, makan makanan sehat, maksudnya makanan alami dan tidak mengalami proses yang panjang. Pencernaan peranannya sangat besar. Pencernaan yang tidak sehat dapat menimbulkan anxiety (kecemasan) atau mudah mengalami panic attack (serangan panik). Dan tidak boleh makan berlebihan. Menurut Imal Al-Ghazali banyak makan merupakan kebiasaan buruk yang dapat menyebabkan hatinya mati dan hilangnya pancaran cahaya, selain itu membuat otak lambat dan bebal. Serta sulit untuk melakukan ibadah dengan baik. Seseorang yang banyak makan biasanya akan lebih mudah mengantuk dan banyak tidur.

Setelah membiasakan makan makanan alami (yang tumbuh dan hidup di alam), maka yang harus diperhatikan adalah reaksi di badan, kondisi kesehatan setiap orang berbeda. Bagi penderita autoimun perlu melakukan diet AIP (autoimmune protocol). Banyak daftar makanan yang harus dieliminasi sementara atau selamanya. Tergantung kondisi badan kedepannya.

Yang keempat, menerapkan gaya hidup minimalis (minimalism). Maksudnya hidup dengan penuh kesadaran dan kesyukuran. Misalnya dalam membeli sesuatu harus dipertimbangkan sesuai kebutuhan serta kebermanfaatannya dalam jangka panjang namun tidak berlebihan. Pelopor minimalism dari Jepang yang paling terkenal adalah Marie Kondo. Sedangkan di Indonesia juga sudah banyak salah satunya adalah Maurilla Sophianti Imron. Seorang penggerak Zero Waste ini banyak memberikan inspirasi bagaimana asyiknya menjalani hidup minimalis. 

Yang kelima, sebenarnya ini yang paling penting dan utama, karena meng-cover keempat jurus di atas. Yaitu tingkatkan ibadah, mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Kalau caranya benar pasti jurus pertama sampai keempat bisa kita lakukan. Bagi seorang muslim, maka Alquran dan Al-hadist sudah jelas sebagai pedoman kehidupan.



Kelihatan klise ya jurus yang terakhir ini, tapi sebenarnya tanpa melakukan jurus ini, apapun yang kita kerjakan pada akhirnya seperti sia-sia, tidak bermuara pada hal yang jelas. Sangat rentan saat landasan tidak kuat.

Supaya kita bisa beribadah dengan benar tentu butuh ilmu dari seorang yang alim.
"Amal tanpa ilmu, sia-sia."

Oleh karena itu beri perhatian lebih banyak untuk belajar mengenal diri dan mengenal siapa yang menciptakan kita beserta alam semesta ini. Rasakan saat Tuhan terasa lebih dekat, memenuhi pikiran dan hati. Kita akan merasa benar-benar hidup.

Itulah kelima jurus yang tidak dapat dianggap remeh. Pengerjaanya tidak sesederhana kelihatannya. Jika up-down selama prosesnya, itu lumrah. Terpenting adalah tetap berusaha konsisten dalam menjalani komitmen.

Mari sama-sama kita terapkan seberapa ampuh jurus-jurus di atas. Apakah kita siap untuk menjalani hari-hari kedepan dengan kebermaknaan yang hakiki?