Rabu, 10 November 2021

Hujan, 10 November 2021

05.50 0 Comments

Aku duduk di teras sambil makan mi kuah buatan sendiri. Jangan tanya bagaimana rasanya, aku yakin kalau bukan karena lapar, mungkin tak kan sanggup melahapnya.


Hari menjelang maghrib, mi-ku juga belum habis, namun pikiranku jalan-jalan melewati hari-hari yang lalu.

Ya, kadang aku suka ngobrol dengan diri sendiri.

"Ci, kapan lagi kau panen pahala, tanpa berbuat apapun?"
"Kau tahu kan, dosamu banyak dan sulit dihitung."

"Sungguh akalmu terbatas, sedang kau tak paham, bagaimana cara Allah menyayangimu.
Berbaik sangkalah!"

Hujan, senja, maghrib, sahut-menyahut, langit semakin pekat.
Hatiku yang dingin mulai terasa hangat. Mi yang masih tersisa, kusimpan di dalam wadah. Bisa dimakan nanti.

O ya, tentu aku ingat, hari ini, hari pahlawan.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala mengampuni dosa-dosa para pahlawan yang telah gugur mendahului.

Sumber: DetikNews

Minggu, 04 Juli 2021

[Bedah Modul] Esensi Pelayanan BK Pada Jalur Pendidikan

01.37 0 Comments

 

Sumber Foto: Media Indonesia

Setiap orang punya cara belajarnya masing-masing, bagi saya agar belajar lebih mudah, biasanya bukan sekadar membaca tetapi usai membaca saya akan membuat ringkasan atau kalau rajin saya akan me-review buku bacaan tersebut kemudian mem-posting di blog pribadi saya. Contohnya seperti tulisan yang sedang kamu baca ini.


Identitas Modul 

MODUL GURU PEMBELAJAR  

Bimbingan dan Konseling  Sekolah Menengah Atas / Sekolah Menengah Kejuruan (SMA/SMK)     

Kelompok Kompetensi H  

Pedagogik: 

Esensi Pelayanan BK pada Jalur Pendidikan      

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2016


Di dalam modul ini sudah menjelaskan secara detail, Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 27 Tahun 2008 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Konselor dijelaskan bahwa dimensi kompetensi guru bimbingan konseling atau konselor mencakup kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan professional. Dari keempat demensi kompetensi tersebut dijabarkan menjadi 17 standar kompetensi. Salah satu standar kompetensi dari dimensi kompetensi pedagogik adalah menguasai esensi pelayanan bimbingan dan konseling dalam jalur, jenis, dan jenjang satuan pendidikan



PELAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING DALAM SATUAN JALUR PENDIDIKAN FORMAL, NON FORMAL, IN FORMAL

 

A. Pentingnya Bimbingan dan Konseling dalam Satuan Jalur Pendidikan Formal

 

Memfasilitasi peserta didik agar mampu mengembangan potensi dirinya atau mencapai tugas-tugas perkembangannya yang mencakup aspek fisik, emosi, sosial, intelektual, dan moral spiritual.

 

        Pendidikan Formal

  1. Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional menyebutkan Jalur pendidikan terdiri atas pendidikan formal, nonformal, dan informal yang dapat saling melengkapi dan memperkaya. Jenjang pendidikan formal terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi
  2. Kegiatan bimbingan dan konseling diarahkan kepada hal-hal pokok yang menyangkut perkembangan individu serta kehidupan mereka sehari-hari, termasuk di dalamnya permasalahan yang mungkin mereka alami.
  3. Membantu peserta didik mengenal dan menerima diri sendiri dan lingkungannya secara positif dan dinamis sesuai dengan peranan yang diinginkannya di masa depan

   B. Pentingnya Bimbingan dan Konseling dalam Satuan Jalur Pendidikan   Non Formal

Kenyataan di masyarakat tidak semua individu dapat mengikuti pendidikan formal di sekolah, banyak individu dengan segala keterbatasan baik fisik, ekonomi, atau sosial tidak mampu menyelesaikan dan/atau bersekolah pada jalur pendidikan formal dan bersekolah pada jalur pendidikan nonformal.



Pendidikan Non Formal


  1. Pada pasal 16 diuraikan bahwa Pendidikan nonformal diselenggarakan bagi warga masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan yang berfungsi sebagai pengganti, penambah, dan/atau pelengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat.
  2. Satuan pendidikan nonformal terdiri atas lembaga kursus, lembaga pelatihan, kelompok belajar, pusat kegiatan belajar masyarakat, dan majelis taklim, serta satuan pendidikan yang sejenis
  3. Jenis pendidikan pada satuan jalur pendidikan nonformal diantaranya adalah Program Paket A, Program Paket B, dan Program Paket C. Disetarakan dengan pendidikan SD, SMP, dan SMA.
  4. Warga belajarnya dengan usia bervariasi. Latar belakang pribadi, sosial, ekonomi, budaya warga belajarnyapun juga sangat bervariasi dan ada kecenderungan bahwa warga belajar yang sekolah pada pendidikan nonformal biasanya dilattarbelakangi dengan ada permasalahan

C. Pentingnya Bimbingan dan Konseling dalam Satuan Jalur Pendidikan     In Formal


Pelayanan bimbingan dan konseling untuk jalur pendidikan informal sangat diperlukan untuk memfasilitasi anak yang memang memiliki masalah kurangnya kemampuan dalam bersosialisasi dengan lingkungan yang lebih luas, jalur pendidikan informal, penyelenggara pendidikan homeschooling dapat menjadi solusi. Anak dalam home schooling pada tahap perkembangan yang sama, sehingga tugas perkembangannyapun dalam usia yang sama. Untuk itu pelayanan bimbingan dan konseling pada satuan jalur pendidikan informal lebih berorientasi pada ketercapaian tugas-tugas perkembangannya disamping juga membantu peserta didik dalam pemecahan masalah. 



Pendidikan In formal

  1. Penyelenggaraan pendidikan pada satuan jalur informal adalah home schooling. Kenyataan di lapangan peserta didik pada home schooling ini adalah individu yang biasanya tidak merasa nyaman untuk mengikuti pendidikan formal, hal itu bisa disebabkan karena ketatnya aturan pada pendidikan formal, banyaknya kesibukan, atau mengharapkan kebebasan dalam belajar tanpa harus dibatasi oleh kurikulum yang dibakukan
  2. Penyelenggaraan pendidikan pada satuan jalur pendidikan informal adalah keluarga itu sendiri.
  3. Pendidikan setara nonformal yang dilakukan pada pendidikan informal adalah home schooling. Pada penyelenggaraan pendidikan home schooling ini peserta didik hanya terdiri beberapa orang, bahkan hanya satu orang saja
  4. Tujuan bimbingan dan konseling pada jalur pendidikan informal adalah membantu peserta didik mengenal dan menerima diri sendiri dan lingkungannya secara positif dan dinamis sesuai dengan peranan yang diinginkannya di masa depan

Saya mencoba menuliskan apa yang menjadi inti sari dari modul. Semoga bermanfaat. Jika ada yang ingin ditanyakan silakan tinggalkan pesan di kolom komentar.

(Suci Widyasari Tanjung - Mahasiswa PPGDalJab 2021 Di Universitas Sebelas Maret)

Sabtu, 03 Juli 2021

4 Komponen Layanan BK, yang Perlu Anda Tahu

17.25 0 Comments


Sumber Foto: didikpos.com

Setiap tahun atau setiap semester sudah semestinya Guru Bimbingan dan Konseling (BK) menyusun action plan yang tujuannya untuk mendetailkan strategi dan metode apa yang akan digunakan dalam mencapai tujuan pelayanan BK itu sendiri. Yuk, kita intip apa saja empat komponen layanan BK dalam Permendikbud RI Nomor 111 Tahun 2014


1. Layanan Dasar (Kurikulum Bimbingan)

Layanan pemberian bantuan terhadap siswa yang berkaitan dngan pengembangan keterampilan, pengetahuan, sikap, dalam bidang pribadi, sosial, belajar, dan karir.


2. Layanan Peminatan dan Perencanaan Individual

Layanan pemberian bantuan terhadap semua siswa dalam membuat rencana pribadi, sosial, belajar, dan karir. Layanan ini tujuannya membantu siswa belajar untuk memantau dan memahami perkembangannya sendiri dan berani mengambil tindakan secara proaktif.


3. Layanan Responsif

Layanan pemberian bantuan terhadap siswa yang memiliki masalah berkaitan dengan belajar, pribadi, sosial, dan karir, yang memerlukan bantuan segera.


4.  Dukungan Sistem

Layanan pemberian bantuan secara tidak langsung, bentuknya kegiatan manajemen yang terdiri dari administrasi dan kegiatan tambahan pengembangan profesi.

 
Di atas sudah ada penjabaran tentang empat komponen layanan yang ada pada program bimbingan dan konseling di sekolah. Nah, untuk memudahkan kita menyusun action plan ada hal-hal yang perlu disiapkan yaitu menentukan bidang layanan, tujuan, komponen layanan, strategi layanan, kelas, materi, metode, media, evaluasi, dan ekuivalensi,





Perhatikan tabel di bawah ini:

Pemetaan Layanan, cara pemberian layanan, dan strateginya

Layanan

Cara Pemberian

Strategi

 

 

 

Dasar

 

Langsung

Bimbingan            Klasikal            (Bimbingan

Kelas/Classroom Guidance)

Bimbingan Kelas Besar

Bimbingan Kelompok

 

 

Melalui media

Pengembangan      media      bimbingan      dan

Konseling

Papan Bimbingan

Kotak Masalah

Leaflet

 

Peminatan dan Perencanaan Individual

 

 

 

Langsung

Bimbingan Klasikal

Bimbingan Kelas Besar/Lintas Kelas

Bimbingan Kelompok

Konseling Individual

Konseling Kelompok

Konsultasi

Kolaborasi

 

 

 

 

Responsif

 

 

Langsung

Konseling Individual

Konseling Kelompok

Konsultasi

Konferensi Kasus

Advokasi

Kunjungan Rumah

 

Melalui Media

Konseling secara Elektronik

Kotak Masalah (Kotak Kebutuhan Peserta

Didik)

 

 

 

Dukungan Sistem

Administrasi

Pelaksanaan Tindak Lanjut Asesmen

Penyusunan       dan      Pelaporan       Program

Bimbingan dan Konseling

Evaluasi Bimbingan dan Konseling

Pelaksanaan Administrasi dan Mekanisme Bimbingan dan Konseling

Kegiatan Tambahan                     dan Pengembangan

Profesi

Kegiatan Tambahan Konselor

Pengembangan Keprofesian Konselor

Sumber: Ditjen GTIK Kemendikbud (2016)


Semoga postingan ini bermanfaat. Jika ada yang ingin ditanyakan atau didiskusikan, silakan tinggalkan pesan pada kolom komentar ya. 

(Suci Widyasari Tanjung - Mahasiswa PPGDalJab 2021 Universitas Sebelas Maret)


Referensi bacaan: 

1. Modul pendalaman Materi PPGDaljab 2021

2. Modul Panduan Operasioanl Penyelengaraan Bimbingan dan Konseling SMA





Asyiknya Konseling Kelompok, Menggunakan Pendekatan SFBT

06.40 0 Comments

 Apa Itu SFBT?

SFBT singkatan dari solution focused brief therapy kalau diartikan secara sederhana ke dalam bahasa Indonesia adalah konseling singkat berfokus solusi, di sini menggunakan kata konseling bukan terapi, karena nama lain dari SFBT sering juga disebut SFBC hanya beda pada penyebutan antara terapi dan konseling saja. Adapun teknik-teknik yang dilakukan sama saja.


Pada pendekatan ini untuk perbedaan katagori manusia sehat dan manusia bermasalah yaitu:

  • Manusia sehat, memiliki kemampuan untuk mengkonstruksikan solusi-solusi atas masaslah yang tengah dihadapi, sehingga tidak terlalu lama berkutat pada permasalahan terlalu lama.

  • Manusia bermasalah, meyakini bahwa sumber dari masalah ada pada dirinya sendiri, sehingga terjadi ketidakefektifan solusi yang dibuat dalam mengentaskan masalahnya

Sumber foto: Dictio Community


Teknik-Teknik yang Digunakan

Berikut ada tiga teknik yang perlu dilakukan pada pendekatan SFBT:

  1. Exeption Question (Pertanyaan Perkecualian): menanyakan pengalaman positif yang terjadi pada masa lalu
  2. Miracle Question (Pertanyaan Keajaiban): menanyakan tentang keajaiban yang terjadi, saat semua masaslah terselesaikan sebagaimana target skala yang ditetapkan tercapai
  3. Scaling Question (SC/ PertanyaanPenskalaan): menanyakan dan mendiskusikan kedudukan konseli pada rentang skala 0-5 pada posisi mana dan harus ditetapkan secara pasti. Juga tanyakan ingin berada di skala tersebut berapa lama dan tindakan apa saja yang perlu dilakukan

D    "Bagaimana dari penjelasan singkat di atas, apakah kalian tertarik menggunakan pendekatan SFBT di dalam konseling kelompok?"

Berikut contoh Rencana Konseling Kelompok (RKK) dengan pendekatan SFBT: 


Rencana Konseling Kelompok

     Komponen                              : Layanan responsif

     Bidang Bimbingan                  : Akademik

T   Topik                                       : Prokrastinasi (Kebiasaan menunda tugas)

     Lokasi waktu                           : 2 x 45 menit

     Nama Konseli                          : A1, A2, A3, A4, A5, A6, A7

H  Hari/Tanggal                            : Rabu, 30 Juni  dan 6 Juli 2021

 

 

A.

Tujuan Layanan

Tujuan Umum:

Melalui konseling kelompok siswa mampu mengatasi perilaku prokrastinasi akademik yang terjadi pada siswa.

Tujuan Khusus:

1.   Siswa mampu memutuskan solusi yang akan dilakukan untuk mengatasi perilaku prokrastinasti akdademik (C5)

2.   Siswa mampu mengubah perilaku negatif yaitu perilaku prokrastinasti akademik ke perilaku yang lebih positif (A5)

3.   Siswa mampu membangun kebiasaan yang lebih baik terkait dengan perilaku prokrastinasti akademik (P2)

 

B

Pendekatan, Teknik, dan Media

1.      Pendekatan: SFBT

2.      Teknik: Scalling

3.      Media:  Kartu Angka (1-5), Google Form

 

C

 

Langkah-Langkah Kegiatan


1.   Tahap Pembentukan (Struktur sesi awal konseling)

a.     Memberikan salam dan menyambut dengan ramah

b.     Memimpin doa

c. Menanyakan kabar dan memastikan anggota kelompok tidak tegang

d. Mempersilahkan anggota kelompok untuk saling mengenal.

e.    Menjelaskan pelaksanaan konseling kelompok

f. Menjelaskan pengertian dan tujuan konseling kelompok

g. Menjelaskan structuring (peran pemimpin dan anggota kelompok)

h. Pemimpin kelompok memberikan Informed Consent sebagai kesediaan  untuk melakukan konseling

i.   Menyampaikan asas-asas konseling kelompok

j. Membuat kesepakatan keterbukaan dan kerahasiaan konseling, yang kemudian diikrarkan bersama anggota kelompok

k. Membuat kesepakatan batasan waktu pelaksanaan konseling

10 menit

 

2.      Tahap Transisi


  1.   Melakukan ice breaking
  2. Meyakinkan kesiapan dan kenyamanan anggota kelompok
  3. Memastikan semua anggota kelompok siap melanjutkan ke tahap kegiatan berikutnya
  4. Meyakinkan kembali anggota kelompok

5 menit

 

3.      Tahap Inti Kegiatan


  1. Mengidentifikasi masalah, mempersilakan setiap anggota kelompok untuk mengutarakan permasalahannya masing-masing
  2. Membuat kesepakatan bersama untuk memilih yang paling penting untuk dibahas dari salah satu anggota kelompok
  3. Mengeksplorasi masalah (membicarakan masalah) yang diutarakan oleh konseli
  4. Menghidupkan dinamika kelompok
  5. Mempersilakan setiap anggota untuk bertanya, atau memberikan masukan
  6. Mendorong konseli beralih dari pembicaraan tentang masalah yang sedang dialami menjadi diskusi dengan fokus pemecahan masalah atau solusi (membicarakan perubahan yang terjadi ketika konseli mengambil keputusan untuk berubah)
  7. Membantu konseli membuat pilihan dengan kesadaran
  8. Membantu konseli untuk semakin menyadari kekecualian-kekecualian (exceptions)
  9. Jika exceptions gagal, maka munculkan pertanyaan ajaib (Miracle Questions)
  10. Membuat Pilihan Sadar (Choosing Conscious), dengan pertanyaan Penskalaan/Scalling Questions
  11. Pemimpin kelompok meminta konseli membuat simpulan apa saja yang akan dilakukan (home work)  setelah mengikuti konseling kelompok
  12. Pemimpin kelompok menanyakan kapan dan berapa lama semua tindaklanjut dilakukan
  13. Meminta konseli melaporkan hasil tindakannya kepada pemimpin dan anggota kelompok
  14. Meminta anggota kelompok merangkum poin-poin belajar yang dapat ditemukan pada setiap sesi konseling kelompok

25 menit

 

4.      Terminasi


a.Pemimpin kelompok memastikan tidak ada lagi yang perlu dibahas

b.Membuat kesepakatan dengan anggota untuk melanjutkan konseling kelompok berikutnya dan memonitoring perkembangan pasca konseling bagi anggota yang telah mengemukakan permasalahannya.

c.Mengukur kemajuan perilaku konseli dengan cara meminta konseli mengisi evaluasi melalui google form

d.Bersama anggota kelompok mengakhiri seluruh rangkaian kegiatan

5 menit

 

      Semoga postingan ini bermanfaat ya. Silakan jika ada yang ingin ditanyakan atau didiskusikan tinggalkan pesasn di kolom komentar ya.


(S    (Suci Widyasari Tanjung - Mahasiswa PPGDalJab 2021 di Universitas Sebelas Maret)