Selasa, 24 September 2013

Ketiga

Untukmu yang Entah

          Untukmu yang mungkin belum pernah bertemu, penantianku berawal diusiaku 21 tahun. Sudah satu tahun lalu dan aku ingin menyegerakannya. Aku ingin kamu hadir saat usiaku 23 tahun, tepatnya di tahun 2014 sekitar tiga bulan dari hari kelahiranku, bulan mei dan di tanggal tiga. Aku suka angka tiga sedari SMA dahulu. Semoga atas izinNya akan menjadi nyata.

"Kamu Tau?"
“Adalah kerinduan bagiku ketika aku terbangun dari tidur pagi, lalu seperti kehilangan sesuatu yang sebenarnya tidak ada, aku seakan mencari, seperti ingin ditemukan dan menemukan. Merindumu yang entah.”

Jika kamu bertanya, di mana aku?
Tak perlu kamu menerka, jika visi utama kita sama, maka Dia yang akan mempertemukan kita. Sama-sama menautkan hati kepada Ilahi Rabbi. Saat ini, yang jelas aku sedang mempersiapkan diri, bersemangat sekali memperdalam pengetahuanku tentang konsep pernikahan, menjadi istri, menjadi ibu, alhamdulillahnya selalu ada jalan, dapat materi di-liqo'at, dapat tawaran sebagai guru, mengikuti beberapa seminar  parenting diantaranya malah gratis. Selain itu, aku juga sering mendengar materi  parenting di media-media. Rasanya bahagia sekali ketika dapat pengetahuan baru apalagi tentang bagaimana menjadi orangtua yang baik dalam mendidik anak. Semasa kuliah dulu pun aku lebih tertarik tentang pembahasan psikologi perkembangan. Khususnya perkembangan anak sampai remaja maupun mengenai pola asuh. Beruntung sekali aku mengambil jurusan yang tepat sesuai dengan minat. Psikologi. Kelak selain jadi penulis dan pengusaha aku ingin jadi praktisi anak. Kamu juga sedang melakukan perbekalankan?

“Cinta yang datang dariNya, adalah cinta yang paling indah diantara skenario cerita cinta yang sengaja kita buat. Cinta kita padaNya yang menjadikan kita kutub magnet yang berbeda lalu saling tarik menarik."

Aku tengah berada dalam penantian yang sabar, setiap hari aku terus berusaha berbenah diri, memperbanyak ibadah tak hanya memperhatikan kuantitas melainkan kualitas, meredakan kepanikanku, mengontrol emosi negatif, menjaga pola makan, menjadi pribadi yang ceria dan berbahagia, sekuat mungkin aku bergerak memperbaiki kebiasaan buruk. Kelak salah satu impianku ketika bersamamu, aku ingin menjadi ibu yang memiliki anak yang sholeh. Meneruskan perjuangan dakwah yang kita jalani.
“Bagaimana dengan visimu menikah?”
“Aku yakin visimu saling mendukung visiku. Jika Allah adalah tujuan utama kita, maka kita seperti satu tubuh. Saling melengkapi.”

Penantian ini sedang mengajarkanku bagaimana sabar itu. Pernah aku menciptakan satu puisi untukmu. Kuberi judul “Momiji Cinta” Alhamdulillah puisi ini sempat terbit disalah satu media cetak lokal di daerahku.

Momiji Cinta

tentang rumah maple kita, si momiji.
kadang kusebut ia maple, kadang kupanggil ia momiji.
ada aku dan kelak buah hati kita
momiji kita harus tumbuh menjadikan romantisme sepanjang perjalanan cinta
menujuNya
lagi-lagi aku mengintip dari jari-jari daun maple.
apa ya, yang tak kusuka darimu?
akh, mungkin karena aku belum melihatmu secara terang-terangan. ya, bisa jadi.

selama ini, aku hanya mengendap-endap jika pada suatu waktu yang sama.
dan lagi-lagi, aku berharap pada Tuhan kita.
kelak, kau jadi terang bersamaku atau hillang.
itu rahasia Tuhanku.


Tahukah kalau aku adalah jodohmu?
Aku adalah bagian tulang rusukmu yang hilang
Ya, akulah jodohmu. Tak perlu kau meragu. Mantapkan hatimu. Tanyakan pada Rabbmu
Dalam istikharahmu kau akan menemukan aku.

(Dibukukan dalam Event Anisa II-"Teruntuk Calon Imamku")

Tidak ada komentar:

Posting Komentar