Senin, 14 Oktober 2013

Di 5 Oktober 2013

22.20 0 Comments
Add caption


5 oktober 2013

Pernahkah mematung seketika, di dalam kerumunan lalu seperti diantara consius-unconsius?
Tatapan saling beradu. Hanya melihat, tanpa ekspresi. Lalu seperti tersadarkan, segera kualihkan pandangan ke arah lain. Berjalan pelan menjauh. Kuatur kembali napas satu-satu.
Teman-temanku mempersilahkanku duduk di antara mereka. Dan aku masih dalam kondisi yang tak sedang berpikir apapun. Duduk diam. Setelahnya, wajah itu lenyap tak dapat kuingat lagi, yang tersisa hanya ia seorang yang berkaca mata, berkulit bersih, tubuhnya proposional. Syukurnya tak ada bayangan wajahnya yang tinggal. Walaupun kejadian itu tak mungkin terlupa. Setidaknya, perjuanganku menjaga hati hanya sedikit tergoyah.
Dari dua minggu yang lalu, Aku dan teman-temanku sudah tak sabar lagi menanti kedatangan penulis besar negeri tercinta ini. Novelis sekaligus seorang ustadz yang karyanya sebagai salah satu instrumen dakwah Beliau. Novel-novelnya sangat menginspirasi dan mampu membangun jiwa membawa kebaikan bagi para pembacanya. Beliau adalah Habiburrahman El-Shirazy yang akrab dipanggil "Kang Abik" oleh penggemarnya. Hari sabtu, 5 oktober 2012 tepatnya seminar nasional beliau berlangsung. Hari yang kutunggu-tunggu tiba. Jadilah aku seakan jadi panitia acara tersebut, pagi-pagi sibuk menyuci, membersihkan kamar, dan melakukan apa saja yang harus dibereskan dan dibersihkan dengan sesegera mungkin. Agar jadi peserta yang datang tepat waktu. Untuk menambah ghirah biasanya Aku selalu menghidupkan lagu-lagu nasyid yang bertemakan perjuangan di dalam dakwah.

Allah, Engkau yang rancang skenario ini. Diantara kerumunan itu seperkian detik kami saling menatap pandang. Lalu segera kulemparkan pandanganku ke arah lain. “Astaghfirullah” batinku. Sekelebat pikiran bermunculan. Segera aku berjalan memasuki ruangan. Syukur tak dapat kuingat bagaimana wajahnya tadi. Berperawakan tinggi proposional dan berkacamata, hanya itu ingatan yang tertinggal.

“Allah, hanya skenariomu yang paling indah, jika kami adalah satu. Aku ingin Engkaulah yang menuntun jalannya dan jalanku dengan cara yang paling romantis, yang mempertemukan kami dengan cara-Mu. Jika tidak, pertemukan pula kami kepada masing-masing belahan jiwa kami dengan cara teromantis-Mu pula. Sesungguhnya Aku berlindung dari bisikan setan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan kejahatan di dalam dada manusia.”

Bukan memfokuskan pada siapa dan siapa, melainkan pada diri sendiri apakah sudah menjadi hamba yang sebaik-baiknya bertakwa, sekhusuk-khusuknya dalam sholat dan dalam setiap menjalankan ibadah lillahi ta’ala. Tentulah itu proses yang tidak mudah, tetapi aku yakin setiap niatan baik selalu ada bantuan dari Allah. Insyaallah.

Ya, karena aku seorang muslimah, maka aku terus berusaha berbenah diri, menjaga hati, dan menjaga kehormatan. Walau terkadang tak jarang pula khilaf. Karena persoalan mengalahkan nafsu adalah sebuah pertempuran yang tidak mudah. Aku hanya makhluk yang dhoif. “Aku berlindung dengan kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan yang Dia ciptakan.”

***

"Yah, Aku ingin menikah di usia 23 tahun. Bagaimana menurut Ayah?"
"Ya, kalau udah ada calonnya nikah."
"Calonnya masih di lauh Mahfudz, Yah. Hmm, mumpung dia belum dateng, Aku ingin membicarakan konsep pernikahan dengan Ayah. Aku ingin pernikahan yang sederhana Yah. Tidak seperti kebanyakan masyarakat yang ketika pesta harus menghabiskan uang banyak. Selain itu Aku ingin, para tamu terpisah antara laki-laki dan perempuan." Belum siap aku utarakan ayah langsung angkat bicara.
"Ya, bagus kalau pernikahannya mau sederhana,  Lagi pula yang pesta , ya terserah kita konsepnya mau seperti apa.

Selasa, 08 Oktober 2013

"Rinai Hujan" Kompleksnya berbagai inspirasi Aku temukan padanya.

21.32 0 Comments
Aku seolah berada di Gaza bersama Hazeem, Sana'a dan Rinai. Lalu Aku tetap menjadi Suci. Berada di sana melihat jelas betapa hebatnya hidup mereka. Menyandarkan segala sesuatunya hanya kepada Allah azza wa jala.

Membaca "Rinai" karangan Mba Sinta Yudisia, membuat aku kembali kepada zaman dimana masih kuliah di Universitas Medan Area. Sigmund Freud-Psikoanalisa, Teori Humanistik, Behavior, Gestalt, mekanisme pertahanan diri dan sebagainya adalah istilah psikologi yang tak asing lagi. Jadilah aku seperti mengalami reinkarnasi duduk di kursi barisan terdepan setiap kali mengikuti mata kuliah yang menjadi favorit. Kalau saja sewaktu itu nikmatnya memelajari psikologi seperti membaca buku Rinai, mungkin cita-citaku menjadi praktisi anak akan menempuh jalan mulus. Membayangkan berada di tengah-tengah kehidupan Rinai, mungkin saja aku bisa berkenalan lalu bersahabat karib dengannya. Sepertinya kami satu gelombang.

Sebenarnya dulu aku ingin menjadi seorang klinisian, tetapi karena di kampusku bidang PIO dan Pendidikan yang menjadi fokus utama dan mungkin karena kekurangan SDM di bidang klinisian akhirnya bidang klinis seperti ditiadakan dipadatkan kedalam bidang perkembangan.



Senin, 07 Oktober 2013

"Ya Allah Antar Aku ke Baitullah"

20.00 0 Comments
2 oktober 2013. Siang itu bersama Niki setelah menuntaskan satu urusan kami memutuskan untuk singgah di Gramedia pusat di Medan. Seharian di gramedia sampailah buku karangan Aguk Irawan MN "Ya Allah Antar Aku ke Baitullah" ke tanganku. Sewaktu membaca judulnya, langsung tertarik untuk membelinya. Sebelumnya sudah dibuka-buka dulu secara acak. Ternyata isinya tak hanya berisi amalan-amalan untuk mewujudkan mimpi haji, melainkan ada juga kisah-kisah ajaib orang miskin yang mampu berhaji, juga dilengkapi panduan ibadah haji secara umum. Di bagian awal pun buku ini dapat meruntuhkan paradigma lama. Bahwa ibadah haji adalah ibadah mahal yang hanya orang kaya aja yang bisa menunaikannya. Hmm, tapi apakah memang selalu begitu? Ternyata tidak. Semua orang berkesempatan jadi tamu Allah di Baitullah. Termasuk aku. Pikirku. 

Baca buku itu, semangatku ingin berhaji pun semakin menggelora. Menunaikan ibadah haji bersama keluarga merupakan salah satu impian besarku.Tetapi jika melihat kondisi keluargaku yang broken home rasanya tak mudah, karena Ayah pun sudah memiliki kelurga kecil baru. Dan terkadang aku harus menerima antara keinginan dan realita yang saling bersebrangan. Walaupun segala sesuatunya tidak sesuai dengan harapan. Tetapi semangat ke Baitullahku tak pudar sedikit pun apalagi mengenai biaya. Bukankah tak ada jalan buntu bersamaNya?

My Dreams

08.45 0 Comments
11. Menikah di usia 23 Tahun
2. Haji di usia 25 Tahun
3. Menghajikan/umrah Ibu tahun 2014
4. Menghajikan/umrah Ayah tahun 2015
5. Menciptakan satu buku karya sendiri februari 2014
6. Mendaki gunung Semeuru februari 2016
7. Hafal juz-amma bulan februari 2014


Selasa, 01 Oktober 2013

Allah sedang Membuka Mata Hatiku

07.42 0 Comments
"Mungkin Allah sedang ingin memperlihatkan kepadaku betapa aku harus bersyukurnya memiliki kedua orang tua seperti Ayah dan Mamak."



Tak habis pikir melihat orangtua yang bersikap kasar kepada anaknya. Apalagi sampai tak mmemerdulikannya, tidak mengajarkan hal-hal baik justru malah secara tidak sadar membentuk pribadi anaknya yang tidak baik.

Waktu dalam perjalanan mau ke rumah nenek. Di dalam angkot, kutemui seorang Ibu yang sedang marah terhadap anaknya yang kira-kira berusia lima tahun. Sangat tidak wajar anak kecil itu harus menerima perlakuan yang tidak baik dari Ibunya.