Senin, 03 November 2014

Sebelas Maret 2014

18.19 0 Comments

“Anakku, di dunia ini ada banyak cinta, yang jika kita tidak memahami hakikat sebenarnya, ia akan mencipta sedih untuk hidupmu.”

            Anak muda tak sedikit mengalami kedukaan panjang dalam menjalani hubungan yang mereka sebut sebagai jalinan kasih. Berkali-kali terluka hatinya, menderita perasaan, mungkin karena ditinggalkan pujaan hati, mungkin cemburu yang membabi buta, mungkin karena rindu yang selalu ingin dilampiaskan, ada banyak perkara menyakitkan ketika menjalani hubungan yang tidak dilandasi pemahaman yang baik dalam bercinta. Anakku, cinta yang tak didasari sesuatu yang kuat ia akan tumbuh rapuh, sebentar saja. Adalah Allah sebagai sesuatu yang kuat itu, menyintai apa pun harus karenaNya. Seiring berjalannya waktu kau akan memahami.
Dibutuhkan ketenangan hati dalam menyikapi setiap perasaan yang tumbuh, kau tak perlu membunuhnya, karena banyak orang yang ingin menjaga hatinya dengan menikam setiap perasaan justru menyuburkan tunas yang lebih banyak lagi sehingga kau akan lebih sulit untuk menghadapinya.

“Ialah sebuah permainan dikehidupan dunia, sebab itu kita harus bermain dengan baik sampai pada kehidupan yang setelah ini, yang sebenar-benarnya. Kehidupan akhirat.”

“Anakku, segala sesuatu yang ada di dunia ini akan tiada, termasuk duka lara dan suka citamu. Takutlah hanya pada Allah Yang Maha menciptakan segala sesuatu itu dan Yang Maha Kekal.”
 
Dengan alasan untuk beribadah kepadaNya kita diciptakan, anakku. Tetapi manusia banyak yang tidak mengetahui. Dunia ini tercipta dari sesuatu yang tiada dijadikan ada dan akhirnya akan kembali tiada. Begitu pun dengan kita. 


Dua Puluh Enam Oktober 2014

18.08 0 Comments

Tiada kesedihan yang menetap, juga bahagia yang selalu bertahan.
pagi ini langit cerah sekali, berwarna biru keputih-putihan, burung gereja berdiskusi
membuat formasi, cantik.
seorang murid datang kepadaku bertanya,
“Bu, mana yang paling utama ketenangan atau kebahagiaan?”
“Ketenangan dan kebahagiaan bisa kita ciptakan sendiri. Mana yang lebih mudah kau ciptakan, anakku? Setiap kita punya kebutuhan yang berbeda. Kedua-duanya adalah utama sesuai kita. 
 

Momiji

Minggu, 05 Oktober 2014

Petualangan di Kota Seribu Kubah

18.07 0 Comments
Tedeng aling-aling, setelah berpikir panjang akhir januari  aku tiba di kota ini. Membawa jutaan rasa, bergejolak, ntah apa namanya.

Keesokan harinya, dapat surprise dari Ayah. Sekitar pukul 09.00 pagi beberapa teman Ayah dan teman sewaktu kecilku diundang ke rumah untuk makan bersama.

"Suci udah mandi?" tanya Ayah semangat.
"Belum Yah, kenapa Yah?" jawabku agak heran. 
"Cepat mandi, sebentar lagi kawan-kawan Ayah datang dan tadi Ayah udah minta Desi juga datang" jawab Ayah sambil menyulap ruang tamu jadi ruang makan.

Tanpa berpikir panjang kutarik handuk berlari ke kamar mandi. Di dalam kamar mandi terdengar sayup sayup suara di teras depan rumah ada orang tengah bercakap-cakap sesekali ketawa. Bergegas kuselesaikan mandiku.

Di ruang tengah sudah ada beberapa teman kerja Ayah, seorang teman masa kecilku yang tinggal di belakang rumah pun ikut membantu istri Ayahku  menghidangkan makanan. Ayah memintaku untuk segera bergabung. Rupanya, acara ini untuk merayakan hari lahirku 1 Februari. Usiaku 23 tahun.

Luar biasa. Hari ini aku sangat bahagia. meskipun aku sudah tidak muda lagi, aku masih merasa jadi anak Ayah yang masih kecil. Merasa sangat berarti. Terima kasih Ayah. Ana uhibbukifillah.

***
        Hari terus berganti, banyak hal yang tak pernah kuduga sebelumnya terjadi. Di sinilah awal perjuanganku. Berjuang mengendalikan diri sendiri. Mengalahkan amarah dan kebencian.