Jumat, 26 Desember 2014

Sewaktu SMP

17.43 0 Comments

“Ada banyak kisah yang sengaja tak ingin kukenang di masa ini tetapi teramat lekat di dalam pikiran”.
Kedua orangtuaku berpisah. Mereka bercerai. Aku dan wigu terpaksa harus pindah sekolah, karena ibuku membawa kami untuk tinggal di rumah nenek sebelum cukup uang  membangun rumah sederhana yang sekarang kami tempati.
Kehidupan yang kujalani terasa aneh. Setiap hari seperti mimpi dan ingin segera terbangun. Ada sebuah kekawatiran yang tak kuketahui asalnya. Aku masih belum percaya mulai saat ini dan entah sampai kapan akan jarang melihat Ayah. Aku dan adikku, meski tak merasa dekat dengan Ayah, kami merasa kehilangan jika beliau tak membersamai kami. Sedang kulihat ibu harus mencari uang untuk memenuhi kebutuhannya bahkan kebutuhan kami meskipun setiap bulannya Ayah mengirimi kami uang untuk mencukupi segala keperluan kami.
***
            Dan aku pun jadi aneh. Kekesalan ku terhadap apa saja. Amarahku teramat memuncak. Aku benci kepada Ibu tetapi terlebih lagi kepada Ayah. Ingin seketika menghilang pergi ke suatu tempat yang tak satu orang pun kukenali. Aku benci pada dunia yang seolah memusuhiku, memandangku sinis. Lalu aku juga takut akan banyak hal yang aku sendiri tidak mengerti sebenarnya apa yang menjadi kekhawatiran. Ketika berjalan gamang, ketika melihat buram. Aku bahkan tak menyukai ketika ada seorang yang menaruh belas asih.
            Ada banyak hal yang tak ingin ku dengar. Pertanyaan-pertanyaan yang kadang menambah kesedihan, cercaan dari masing-masing keluarga ayah dan ibu. Mereka saling menyalahkan, saling menghujat satu sama lain. Tak sedikit pun mereka memahamiku.
    ***
            Ketika teman-teman sekolah menanyakan tentang keluargaku, agaknya aku kawatir jika mereka akhirnya tau kedua orangtuaku telah bercerai. Aku enggan bercerita, meringis saja dan berusaha mengalihkan pembicaraan. Meskipun diakhir kelulusanku mereka sengaja kuberitahu tentang kondisi keluargaku yang sebenarnya. Legah. Mungkin aku mulai menerima keadaan.
            Masa sekolah menengah pertama adalah masa terberat bagiku. Memahami sebuah kenyataan. Memahami kehidupanku berubah pasca perceraian Ayah dan Ibu. Memahami bahwa aku harus tinggal terpisah disalah satu dari mereka. Memahami setiap cemoohan yang mengarah padaku. Memahami aku tak layak untuk membenci mereka. Memahami makna merasa sendiri. Kesepian.
   ***
_masih banyak yang belum aku tuliskan di sini_

Senin, 03 November 2014

Sebelas Maret 2014

18.19 0 Comments

“Anakku, di dunia ini ada banyak cinta, yang jika kita tidak memahami hakikat sebenarnya, ia akan mencipta sedih untuk hidupmu.”

            Anak muda tak sedikit mengalami kedukaan panjang dalam menjalani hubungan yang mereka sebut sebagai jalinan kasih. Berkali-kali terluka hatinya, menderita perasaan, mungkin karena ditinggalkan pujaan hati, mungkin cemburu yang membabi buta, mungkin karena rindu yang selalu ingin dilampiaskan, ada banyak perkara menyakitkan ketika menjalani hubungan yang tidak dilandasi pemahaman yang baik dalam bercinta. Anakku, cinta yang tak didasari sesuatu yang kuat ia akan tumbuh rapuh, sebentar saja. Adalah Allah sebagai sesuatu yang kuat itu, menyintai apa pun harus karenaNya. Seiring berjalannya waktu kau akan memahami.
Dibutuhkan ketenangan hati dalam menyikapi setiap perasaan yang tumbuh, kau tak perlu membunuhnya, karena banyak orang yang ingin menjaga hatinya dengan menikam setiap perasaan justru menyuburkan tunas yang lebih banyak lagi sehingga kau akan lebih sulit untuk menghadapinya.

“Ialah sebuah permainan dikehidupan dunia, sebab itu kita harus bermain dengan baik sampai pada kehidupan yang setelah ini, yang sebenar-benarnya. Kehidupan akhirat.”

“Anakku, segala sesuatu yang ada di dunia ini akan tiada, termasuk duka lara dan suka citamu. Takutlah hanya pada Allah Yang Maha menciptakan segala sesuatu itu dan Yang Maha Kekal.”
 
Dengan alasan untuk beribadah kepadaNya kita diciptakan, anakku. Tetapi manusia banyak yang tidak mengetahui. Dunia ini tercipta dari sesuatu yang tiada dijadikan ada dan akhirnya akan kembali tiada. Begitu pun dengan kita. 


Dua Puluh Enam Oktober 2014

18.08 0 Comments

Tiada kesedihan yang menetap, juga bahagia yang selalu bertahan.
pagi ini langit cerah sekali, berwarna biru keputih-putihan, burung gereja berdiskusi
membuat formasi, cantik.
seorang murid datang kepadaku bertanya,
“Bu, mana yang paling utama ketenangan atau kebahagiaan?”
“Ketenangan dan kebahagiaan bisa kita ciptakan sendiri. Mana yang lebih mudah kau ciptakan, anakku? Setiap kita punya kebutuhan yang berbeda. Kedua-duanya adalah utama sesuai kita. 
 

Momiji

Ibuku yang Mulia

17.57 0 Comments


                                                  :Ibunda Muliani Sari Dewi Siregar            
                                                                       16 November 1967

Alhamdulillah aku diberikan seorang Ibu yang penuh dengan kasih sayang. Sampai diusiaku saat ini pun Ibuku selalu memberikan perhatian, motivasi, dukungan agar aku dapat menjalani kehidupanku dengan baik. Sejak SMA aku tidak tinggal serumah dengan beliau, tetapi Ibuku, ku tahu beliau dapat merasakan apa yang aku rasakan dan alami. Aku memang selalu berbagi cerita dengannya, kami sering berdiskusi tentang apa saja baik langsung maupun melalui telepon, kami membicangkan banyak hal. Hubunganku dengan ibu sangat akrab dibandingkan dengan Ayah. Meskipun begitu tak jarang juga kami berdebat, bahkan aku juga sering kesal tetapi tidak dengan Ibu, beliau selalu tenang menyikapi emosiku yang labil apalagi ketika aku berada dalam situasi sulit dan menghadapi banyak masalah. Ibu tetap dengan tenang menanggapi semua keluh kesahku, bahkan tangis dan amarahku dan aku merasa tenang hingga redah emosiku karena kasih sayangmya, aku tidak hidup sendiri masih ada Beliau dan tentunya Beliau yang selalu mengingatkan Tuhan yang akan selalu membersamai.
Aku sangat bersyukur kepada tuhan telah menjadi anak Ibuku. Banyak kulihat, anak-anak mendapatkan perlakuan buruk dari ibunya, diperlakukan dengan kejam dank eras. Berbeda sekali denganku dari kecil aku jarang sekali melihat Ibu membentak keras padaku. Dulu aku ngambek,  Ibu tersenyum melihat tingkahku itu dan mendekatiku berusaha membujuk dengan sangat tenang. Banyak sikap yang tidak semestinya kuberikan untuk Ibu. Beliau seorang wanita yang mulia yang kebaikannya tidak sanggup kutuliskan. Begitu banyak. Banyak sekali yang beliau perbuat untuk hidupku. Aku ingat waktu aku wisuda.

“Yang penting diacara wisuda Uci, Uci bahagia. Mamak nggak apa kalau tidak hadir di acara wisuda Uci, mamak hanya ingin Uci bahagia, Nak. Maka mamak pun ikut bahagia."
Ketika itu aku marah sekali mendengar perkataanmu Bu. Seorang yang paling kuharapkan kehadirannya di acara wisuda itu adalah Ibu. Jauh-jaub hari aku sudah menyiapkan mental, andai saja Ayah tidak setuju, aku akan tetap bersikeras sekalipun menentang Ayah. Karena yang kutangkap Ayah ingin berdampingan dengan istrinya untuk menghadiri acara wisudaku.  Aku tidak mungkin sengaja melupakan jasa Ayah yang telah membiayai kuliahku, kebutuhanku sehari-hari diperantauan, tapi aku juga tidak mungkin lupa bahwa tanpa seorang Ibu yang melahirkanku aku tidak akan ada di dunia ini.
Sekarang di kota antah berantah ini aku berkelana Bu, aku mengalami banyak kesulitan di sini. Tapi Ibu yang selalu mendoakan dan menenangkanku disaat gundahku memuncak. Lagi-lagi dengan kasih sayangmu Bu, engkau mengingatkan padaku, bahwa Allah-lah Yang Maha Penyayang yang akan mengindahkan kehidupan kita dengan tetap berhusnudzan kepadaNya. Menjadi hamba yang baik yang kelak dihadiahi syurga sebagai balasannya. Seperti quote Ibu malam ini:

“Orang yang tidak memaafkan orang lain, itu sama saja orang yang memutuskan jembatan yang akan dilaluinya”.
Aku bersyukur jadi anakmu Bu. Engkau sangat menyintai aku dan wigu dengan tulus. Saat ini aku ingin sekali tinggal bersamamu Bu. Setelah bertahun-tahun tidak serumah denganmu, aku tidak ingin menyiakan kesempatan untuk bersama denganmu Bu. Berkumpul kembali, yang setiap hari aku bias melihat wajahmu.
Dulu aku sibuk merencanakan petualanganku jauh untuk mencari sebuah kebahagian baru, tetapi sekarang aku menyadari untuk menjadi seorang yang bahagia aku tidak perlu pergi jauh-jauh. Aku ingin pulang Bu, semoga Tuhan memudahkan jalanku.

“Ibundaku terima kasih atas doa yang tak pernah putus untukku. Terima kasih atas cinta kasihmu. Ku yakini, atas doamu dan kasih sayang Allah yang menjadikan ku hidup dengan baik sampai sekarang, meskipun kerap kali kujalani hidup tidak mudah.”
Duhai Ibu, semoga inginku adalah inginmu,
sehingga aku tak perlu membuatmu bersedih hanya karena ingin mewujudkan inginku.

Duhai Ibu semoga maumu adalah mauku,
sehingga aku tak perlu ngotot memaksakan kehendak yang mungkin bisa melukai hatimu hanya untuk memuaskan mauku.

Duhai Ibu, aku ingin sekali melihatmu bahagia telah memiliki aku,
aku tenang melihatmu senang, kau tenang melihatku senang tanpa khawatir aku berada pada situasi yang tidak membahagiakan. Begitu pun denganmu, Bu.

Duhai Ibu, kuingin Tuhan tetap menjaga cinta kita sampai kapan pun,
sampai syurgaNya kelak kita tetap saling cinta.


Balam, 26 Oktober 2014









Minggu, 05 Oktober 2014

Petualangan di Kota Seribu Kubah

18.07 0 Comments
Tedeng aling-aling, setelah berpikir panjang akhir januari  aku tiba di kota ini. Membawa jutaan rasa, bergejolak, ntah apa namanya.

Keesokan harinya, dapat surprise dari Ayah. Sekitar pukul 09.00 pagi beberapa teman Ayah dan teman sewaktu kecilku diundang ke rumah untuk makan bersama.

"Suci udah mandi?" tanya Ayah semangat.
"Belum Yah, kenapa Yah?" jawabku agak heran. 
"Cepat mandi, sebentar lagi kawan-kawan Ayah datang dan tadi Ayah udah minta Desi juga datang" jawab Ayah sambil menyulap ruang tamu jadi ruang makan.

Tanpa berpikir panjang kutarik handuk berlari ke kamar mandi. Di dalam kamar mandi terdengar sayup sayup suara di teras depan rumah ada orang tengah bercakap-cakap sesekali ketawa. Bergegas kuselesaikan mandiku.

Di ruang tengah sudah ada beberapa teman kerja Ayah, seorang teman masa kecilku yang tinggal di belakang rumah pun ikut membantu istri Ayahku  menghidangkan makanan. Ayah memintaku untuk segera bergabung. Rupanya, acara ini untuk merayakan hari lahirku 1 Februari. Usiaku 23 tahun.

Luar biasa. Hari ini aku sangat bahagia. meskipun aku sudah tidak muda lagi, aku masih merasa jadi anak Ayah yang masih kecil. Merasa sangat berarti. Terima kasih Ayah. Ana uhibbukifillah.

***
        Hari terus berganti, banyak hal yang tak pernah kuduga sebelumnya terjadi. Di sinilah awal perjuanganku. Berjuang mengendalikan diri sendiri. Mengalahkan amarah dan kebencian. 
Sebelumnya aku sudah pernah mengalami perasaan 'semacam itu' sakit-marah-dan aku benci. Allah tengah mengujiku. Bukankah jangan mengaku beriman sebelum diuji olehNya?
sungguh berat ujian kali ini. Istri Ayahku benar-benar tidak menyukaiku. Mungkin aku adalah orang yang ingin sekali ia singkirkan di dunia ini. Ketika melihatku ia seperti memukul genderang perang. Setiap harinya aku mengalami sakit perasaan, dengan sikap, ekspresi yang ia berikan sangat tidak bersahabat denganku. sesekali membanting apa saja di dalam rumah, menyindir, bahkan menceritakan betapa buruknya aku dengan saudara-saudara Ayahku di telpon dan ketika aku mencoba membantu pekerjaan rumah ia melarangku.

belum kelar...