Minggu, 05 Oktober 2014

Petualangan di Kota Seribu Kubah

Tedeng aling-aling, setelah berpikir panjang akhir januari  aku tiba di kota ini. Membawa jutaan rasa, bergejolak, ntah apa namanya.

Keesokan harinya, dapat surprise dari Ayah. Sekitar pukul 09.00 pagi beberapa teman Ayah dan teman sewaktu kecilku diundang ke rumah untuk makan bersama.

"Suci udah mandi?" tanya Ayah semangat.
"Belum Yah, kenapa Yah?" jawabku agak heran. 
"Cepat mandi, sebentar lagi kawan-kawan Ayah datang dan tadi Ayah udah minta Desi juga datang" jawab Ayah sambil menyulap ruang tamu jadi ruang makan.

Tanpa berpikir panjang kutarik handuk berlari ke kamar mandi. Di dalam kamar mandi terdengar sayup sayup suara di teras depan rumah ada orang tengah bercakap-cakap sesekali ketawa. Bergegas kuselesaikan mandiku.

Di ruang tengah sudah ada beberapa teman kerja Ayah, seorang teman masa kecilku yang tinggal di belakang rumah pun ikut membantu istri Ayahku  menghidangkan makanan. Ayah memintaku untuk segera bergabung. Rupanya, acara ini untuk merayakan hari lahirku 1 Februari. Usiaku 23 tahun.

Luar biasa. Hari ini aku sangat bahagia. meskipun aku sudah tidak muda lagi, aku masih merasa jadi anak Ayah yang masih kecil. Merasa sangat berarti. Terima kasih Ayah. Ana uhibbukifillah.

***
        Hari terus berganti, banyak hal yang tak pernah kuduga sebelumnya terjadi. Di sinilah awal perjuanganku. Berjuang mengendalikan diri sendiri. Mengalahkan amarah dan kebencian. 
Sebelumnya aku sudah pernah mengalami perasaan 'semacam itu' sakit-marah-dan aku benci. Allah tengah mengujiku. Bukankah jangan mengaku beriman sebelum diuji olehNya?
sungguh berat ujian kali ini. Istri Ayahku benar-benar tidak menyukaiku. Mungkin aku adalah orang yang ingin sekali ia singkirkan di dunia ini. Ketika melihatku ia seperti memukul genderang perang. Setiap harinya aku mengalami sakit perasaan, dengan sikap, ekspresi yang ia berikan sangat tidak bersahabat denganku. sesekali membanting apa saja di dalam rumah, menyindir, bahkan menceritakan betapa buruknya aku dengan saudara-saudara Ayahku di telpon dan ketika aku mencoba membantu pekerjaan rumah ia melarangku.

belum kelar...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar