Senin, 03 November 2014

Ibuku yang Mulia



                                                  :Ibunda Muliani Sari Dewi Siregar            
                                                                       16 November 1967

Alhamdulillah aku diberikan seorang Ibu yang penuh dengan kasih sayang. Sampai diusiaku saat ini pun Ibuku selalu memberikan perhatian, motivasi, dukungan agar aku dapat menjalani kehidupanku dengan baik. Sejak SMA aku tidak tinggal serumah dengan beliau, tetapi Ibuku, ku tahu beliau dapat merasakan apa yang aku rasakan dan alami. Aku memang selalu berbagi cerita dengannya, kami sering berdiskusi tentang apa saja baik langsung maupun melalui telepon, kami membicangkan banyak hal. Hubunganku dengan ibu sangat akrab dibandingkan dengan Ayah. Meskipun begitu tak jarang juga kami berdebat, bahkan aku juga sering kesal tetapi tidak dengan Ibu, beliau selalu tenang menyikapi emosiku yang labil apalagi ketika aku berada dalam situasi sulit dan menghadapi banyak masalah. Ibu tetap dengan tenang menanggapi semua keluh kesahku, bahkan tangis dan amarahku dan aku merasa tenang hingga redah emosiku karena kasih sayangmya, aku tidak hidup sendiri masih ada Beliau dan tentunya Beliau yang selalu mengingatkan Tuhan yang akan selalu membersamai.
Aku sangat bersyukur kepada tuhan telah menjadi anak Ibuku. Banyak kulihat, anak-anak mendapatkan perlakuan buruk dari ibunya, diperlakukan dengan kejam dank eras. Berbeda sekali denganku dari kecil aku jarang sekali melihat Ibu membentak keras padaku. Dulu aku ngambek,  Ibu tersenyum melihat tingkahku itu dan mendekatiku berusaha membujuk dengan sangat tenang. Banyak sikap yang tidak semestinya kuberikan untuk Ibu. Beliau seorang wanita yang mulia yang kebaikannya tidak sanggup kutuliskan. Begitu banyak. Banyak sekali yang beliau perbuat untuk hidupku. Aku ingat waktu aku wisuda.

“Yang penting diacara wisuda Uci, Uci bahagia. Mamak nggak apa kalau tidak hadir di acara wisuda Uci, mamak hanya ingin Uci bahagia, Nak. Maka mamak pun ikut bahagia."
Ketika itu aku marah sekali mendengar perkataanmu Bu. Seorang yang paling kuharapkan kehadirannya di acara wisuda itu adalah Ibu. Jauh-jaub hari aku sudah menyiapkan mental, andai saja Ayah tidak setuju, aku akan tetap bersikeras sekalipun menentang Ayah. Karena yang kutangkap Ayah ingin berdampingan dengan istrinya untuk menghadiri acara wisudaku.  Aku tidak mungkin sengaja melupakan jasa Ayah yang telah membiayai kuliahku, kebutuhanku sehari-hari diperantauan, tapi aku juga tidak mungkin lupa bahwa tanpa seorang Ibu yang melahirkanku aku tidak akan ada di dunia ini.
Sekarang di kota antah berantah ini aku berkelana Bu, aku mengalami banyak kesulitan di sini. Tapi Ibu yang selalu mendoakan dan menenangkanku disaat gundahku memuncak. Lagi-lagi dengan kasih sayangmu Bu, engkau mengingatkan padaku, bahwa Allah-lah Yang Maha Penyayang yang akan mengindahkan kehidupan kita dengan tetap berhusnudzan kepadaNya. Menjadi hamba yang baik yang kelak dihadiahi syurga sebagai balasannya. Seperti quote Ibu malam ini:

“Orang yang tidak memaafkan orang lain, itu sama saja orang yang memutuskan jembatan yang akan dilaluinya”.
Aku bersyukur jadi anakmu Bu. Engkau sangat menyintai aku dan wigu dengan tulus. Saat ini aku ingin sekali tinggal bersamamu Bu. Setelah bertahun-tahun tidak serumah denganmu, aku tidak ingin menyiakan kesempatan untuk bersama denganmu Bu. Berkumpul kembali, yang setiap hari aku bias melihat wajahmu.
Dulu aku sibuk merencanakan petualanganku jauh untuk mencari sebuah kebahagian baru, tetapi sekarang aku menyadari untuk menjadi seorang yang bahagia aku tidak perlu pergi jauh-jauh. Aku ingin pulang Bu, semoga Tuhan memudahkan jalanku.

“Ibundaku terima kasih atas doa yang tak pernah putus untukku. Terima kasih atas cinta kasihmu. Ku yakini, atas doamu dan kasih sayang Allah yang menjadikan ku hidup dengan baik sampai sekarang, meskipun kerap kali kujalani hidup tidak mudah.”
Duhai Ibu, semoga inginku adalah inginmu,
sehingga aku tak perlu membuatmu bersedih hanya karena ingin mewujudkan inginku.

Duhai Ibu semoga maumu adalah mauku,
sehingga aku tak perlu ngotot memaksakan kehendak yang mungkin bisa melukai hatimu hanya untuk memuaskan mauku.

Duhai Ibu, aku ingin sekali melihatmu bahagia telah memiliki aku,
aku tenang melihatmu senang, kau tenang melihatku senang tanpa khawatir aku berada pada situasi yang tidak membahagiakan. Begitu pun denganmu, Bu.

Duhai Ibu, kuingin Tuhan tetap menjaga cinta kita sampai kapan pun,
sampai syurgaNya kelak kita tetap saling cinta.


Balam, 26 Oktober 2014









Tidak ada komentar:

Posting Komentar