Selasa, 08 September 2015

Zero Mind

19.24 0 Comments

Pertama:
Hindari selalu berprasangka buruk, upayakan berprasangka baik kepada orang lain
Kedua:
Berprinsiplah selalu kepada Allah Yang Maha Abadi
Ketiga:
Bebaskan diri dari pengalaman-pengalaman yang membelenggu pikiran, berfikirlah merdeka
Keempat:
Dengarlah suara hati, peganglah prinsip karena Allah, perpikirlah melingkar, sebelum menentukan kepentingan dan prioritas
Kelima:
Lihatlah semua sudut pandang secara bijaksana berdasarkan suara-suara hati yang bersumber dari Asmaul Husna
Keenam:
Periksa pikiran Anda terlebih dahulu sebelum menilai segala sesuatu, jangan melihat sesuatu karena pikiran Anda, tetapi lihatlah sesuatu karena apa adanya
Ketujuh:
Ingatlah bahwa segala ilmu pengetahuan adalah bersumber dari Allah Subhana wa ta’alaa

“Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual (ESQ)”
_ Ary Ginanjar Agustian_

Waktu Berharga Pengasuhan Anak

19.08 0 Comments



1.      7 tahun pertama (0-7 tahun)
Perlakukan anakmu sebagai raja. Zona merah – zona larangan
jangan marah-marah, jangan banyak larangan, jangan rusak jaringan otak anak. Pahamilah bahwa posisi anak yang masih kecil, saat itu yang berkembang otak kanannya.
2.      7 tahun kedua (7-14 tahun):
Perlakukan anakmu sebagai pembantu atau tawanan perang. Zona kuning – zona hati-hati dan waspada. Latih anak-anak mandiri untuk mengurus dirinya sendiri, mencuci piring, pakaian, setrika, dll. Banyak pelajaran berharga dalam kemandirian yang bermanfaat bagi masa depannya.
3.      7 tahun ketiga (14-21 tahun)
Perlakukan anak seperti sahabat. Zona hijau – sudah boleh jalan.
Anak sudah bisa dilepas untuk mandiri. Mereka sudah bisa dilepas sebagai duta keluarga.
4.      7 tahun keempat (21-28 tahun):
Perlakukan sebagai pemimpin. Zona biru – siap terbang.
Siapkan anak untuk menikah. Pada masa anak-anak yang berkembang otak kanannya. Otak kiri berkembang saat usianya menjelang 7 tahun.
***
Anak perempuan keseimbangan otak kanan dan kirinya lebih cepat. Sedangkan anak laki lebih lambat. Keseimbangan otak kanan dan kiri pada anak laki-laki baru tercapai sempurna di usia 18 tahun, sedangkan anak perempuan sudah cukup seimbang otak kanan dan kirinya di usia 7 tahun. Ampun dah lama bener ya?Ternyata ada rahasia Allah mengapa diatur seperti itu.
“Laki-laki dipersiapkan untuk jadi pemimpin yang tegas dalam mengambil keputusan. Untuk itu, jiwa kreatifitas dan explorasinya harus berkembang pesat. Sehingga pengalaman itu membuatnya dapat mengambil keputusan dengan tenang dan tepat.Sementara perempuan dipersiapkan untuk jadi pengatur dan manajer yang harus penuh keteraturan dan ketelitian.”
Untuk memberi intruksi pada anak, gunakan suara Ayah . Karena suaranya bas, empuk dan enak didengar. Kalau suara Ibu memerintah, cenderung melengking seperti biola salah gesek. Itu bisa merusak sel syaraf otak anak. 250rb sel otak anak rusak ketika dimarahi. Solusinya, ibu bisa menggunakan bahasa tubuh atau isyarat jika ingin memberikan instruksi. Suara perempuan itu enak didengar jika digunakan dengan nada sedang. Cocok untuk mendongeng atau bercerita.
Cara berkomunikasi yang efektif dengan anak:
1)      Merangkul pundak anak sambil ditepuk lembut.
2)      Sambil mengelus tulang punggung anak hingga ke tulang ekor.
3)      Sambil mengusap kepala.
Dengan sentuhan ada gelombang yang akan sampai ke otak anak sehingga sel-sel cintanya tumbuh subur. Mudah-mudahan bisa bermanfaat. Silahkan di share agar lebih banyak yang mengetahui.

Sumber: Ukhwah ODOJ

Kamis, 23 Juli 2015

Time

20.52 0 Comments


Hari berlalu,
pagi berganti malam, pun malam
sudah dua puluh empat tahun kini
aku sudah tak bisa disebut belia
amanah di pundak kupikul dengan bangga
Waktu adalah sahabat bagiku,
maka kumanfaatkan setiap kesempatan
karena ia tak akan berjalan mundur,
maka aku harus tetap menatap maju
agar tak tergerus
Selagi nyawa dikandung badan
aku masih bernapas
hidup sekali, hidup berarti
tak ada yang sia-sia, maka aku harus jadi
                                                                             _Momiji_
                                                                                      23 Juli 2015


Back

20.51 0 Comments

Alhamdulillah,
Selamat pagi kota antah berantah. Hari ini adalah rabu 22 juli 2015. Setelah waktu libur lebaran Idul Fitri berakhir, ini hari pertama aku kembali bekerja. Semangat kata itu yang selalu ku azzam kan dalam hati. Hidup di perantauan selalu menyisahkan kenangan yang tak lekang oleh waktu tentang kehidupan yang dilalui sebelumnya. Semangat, kali ini aku telah berjanji untuk tak sering mengeluh.
Mengingat kembali mimpi-mimpi yang telah kurancang dahulu sekali untuk menguatkan setiap kali aku ingin menyerah. Berpikir kembali untuk menyelesaikan apa yang sudah aku mulai. Aku telah melangkah sejauh ini, aku tak akan pulang tanpa membawa bintang. Bukankah kata-kata itu telah lama menjadi mantra bagiku?
Seperti kisah tokoh-tokoh yng kubaca, meraih kebahagian dan keberhasilan setelah merasakan sulitnya hidup merantau, belajar banyak hal, punya pengalaman segudang. Akhirnya selalu happy ending hidup menebarkan kebermanfaatan. Ya, aku pun ingin demikian. Belajar memahami banyak hal, pastilah alam semesta ini adalah tempat terbaik untuk belajar apa saja bagi manusia yang mengetahui. Sedang yang membiarkan waktu lewat begitu saja adalah kerugian baginya. Ingin kunikmati semua yang terjadi, apapun situasinya, semoga jadi pembelajaran hidup yang bernilai yang kelak akan menghantarkanku lebih dekat menuju tujuan yang sebenarnya.
Bukankah selalu ada Allah yang Maha Menjaga? Bukankah aku masih punya orangtua yang selalu mendukung? Dan saudara yang selalu memacu? Serta sahabat yang selalu memicu? Sebenarnya tak ada alasan bagiku untuk menjadi lemah apalagi tak berguna. Semangat, satu-satu kugapai asa. Umrah, berhaji, ke Turki, menjadi istri dan ibu yang hebat, penulis, berbisnis, kuliah S2, keliling nusantara, dan kalau tidak berlebihan ingin keliling dunia.
_Momiji_ 

Kamis, 15 Januari 2015

Nonton Assalammualaykum Beijing

23.50 0 Comments
MenPlaz, 3 Januari 2015

Liburan selalu ditunggu-tunggu setiap orang, apalagi yang kerja di perantauan. Termasuk saya. Semenjak akhir Februari 2014 saya bekerja liburan adalah moment yang paling dinantikan. Berkumpul dengan keluarga dan para sahabat.

         Jadilah aku, Riska, Nisa, Rara, dan Fida nonton “Assalammualaykum Beijing” di MenPlaz. Tiga januari dua ribu lima belas.  Saya yang pertama kali tiba di lokasi, sekitar sejam-an disusul Rara. Setelah beli lima tiket kami berdua memutuskan ke Gramedia-Gajah Mada, lebih tepatnya aku yang membujuk Rara untuk mengunjungi Gramedia. Makhlumlah di kota perantauan saya tak ada toko buku senyaman gramedia. Udah 10 bulan tak pernah baca buku baru. Menyedihkan.
Sekitar setengah jam di gramedia. Buku yang paling ingin kucari ternyata stocknya habis. Buku Bimbingan Konseling. Akhirnya bolak-balik cari novel terbarunya Kang Abik dan Tere-liye. Senangnya tak terkira. Kontan hijau mataku melihat banyaknya novel yang ingin sekali kubeli. Antara kantong dan keinginan. Seketika buatku galau. Gaji sebulan rasanya mau dihabiskan untuk memborong buku. Untungnya segera tersadar, mengingat kebutuhan sandang-pangan selama sebulan. Di perantauan harus tetap punya simpanan.
“Kalian di mana? Ane tunggu di Mushola Menplaz ya, sekalian dzuhur”. Sms Riska mendarat di inbox-ku.
“Kalian di mana? Ane OTW”. Sms Nisa menyusul.
Aku dan Rara bersiap meninggalkan gramedia menuju Menplaz, langsung naik ke lantai empat menuju Musholla. Dan ketemu Nisa. Langsung kami bertiga menjumpai Riska di dalam Musholla. Sahabatku yang satu ini, penampilannya lebih rapi dan kelihatan lebih anggun daripada biasanya. Makin kelihatan imut-imut. Kayak marmut. Kidding ya. Tapi kalau mau dianggap benaran juga tak apa. (siap-siap dijitak)
“Fida katanya telat, nih dia baru berangkat”. Ceracau Riska.
Kami memutuskan untuk mendahulukan sholat dzuhur, meskipun bakalan ketinggalan sekitar 10-menitan. Sengaja milih jam pertama 12.30 Wib. Supaya entar pulangnya gak kesorean dan ada waktu untuk jalan-jalan. Lama tak bersua, serasa satu abad. Sayang kalau cuma nonton. Apalagi mumpung ada Nisa. Miss rempong. Apalagi sekarang Goldie, anaknya lagi masa pertumbuhan, habis waktunya jadi ibu rumah tangga yang baik.
Setelah sholat kami bergegas ke bioskop, masuk duluan. Fida masih di jalan. Hadeuh. Kenapa penyakit telatnya Riska pindah ke Fida sih? Meskipun ia tak mengizinkan kami masuk duluan. Kami mengabaikan pesannya. Afwan Fida. Aku, Nisa, Riska meringis. Rara memandang datar.
Alhamdulillah, hari ini penasaranku tentang “Assalammualaykum Beijing” akhirnya akan terpenuhi. Aku memilih duduk paling pinggir biar lebih konsen nontonnya dan mudah jemput Fida ketika sesampainya ia di depan bioskop. Sekitar setengah jam film tayang, Fida akhirnya sampai juga.
Karakter Sekar mirip seperti Nisa.