Minggu, 29 Oktober 2017

Save Bumi dari Para Jombie




Tatkala mulut tak ingin lagi berbicara.
Apa kita bisu?

"Sekalipun aku sadar,  kalau aku bukan orang baik,  namun aku tetap berusaha untuk berbuat baik."

Bukan ingin mematahkan istilah "Diam itu emas" namun pembahasan yang satu ini adalah ketika ketidakadilan di hadapan,  ketika kekerasan terjadi di depan mata, ketika negeri api menyerang, lalu Aang harus segera minta bantuan sama avatar pendahulunya, untuk mengalahkan pasukan negeri api,  tapi kita bungkam. Diam seribu bahasa. Dengan dalih gak mau kepo dan bukan urusan saya, kerapkali justru membiarkan keburukan terus bertumbuh. Eh,  bukankah kebaikan dan keburukan juga bisa menular dan ditularkan? Sama seperti saat kamu sedang flu,  virusnya bisa menyebar,  menjangkiti orang di sekitar yang daya tahan tubuhnya lagi menurun. Seperti manusia yang bisa jadi jombie,  setelah digigit oleh jombie,  begitu seterusnya,  sampai lama-lama bumi ini dipenuhi oleh makhluk yang bernama jombie. Hus,  ngaco. Kamu-kamu gak maukan,  kalau bumi ini akhinya disesaki oleh orang-orang jahat,  atau orang-orang baik tapi sudah tertular jadi jahat? Seram euy.

Kehidupan dunia telah banyak perubahan,  setiap manusia berlomba untuk berkembang,  menciptakan teknologi yang semakin mutakhir, sepertinya kehidupan ini akan digiring ke era digital yang lebih sempurna, memudahkan urusan banyak orang. Bisa jadi,  dalam waktu yang tak lama lagi pintu kemana saja milik Doraemon betulan ada.  Lumayan menghemat ongkos dan waktu,  tinggal buka pintu sampai deh ditujuan. Dan tinggal menghitung waktu,  supir angkutan online jug ikutan demo di sana sini karena sepi penumpang. Tetapi, tak sejalan beriiringan dengan tingkat kepedulian,  masing-masing orang terlihat semakin individualis, sibuk dengan dunia sendiri,  namun tak menafikkan bahwa memang masih ada beberapa yang punya kepedulian.

Stop bullying! Sekarang juga. Iya sekarang,  enggak pakai tar-sok (Bentar besok)

Apaan sih bullying? Sudah gak asing kan ya,  sama yang namanya bullying? Tapi gak ada salahnya kalau saya ulas sedikit tentang bullying, siapa tahu atau siapa tempe, ada diantara kita-kita sedang hilang ingatan sejenak, jadi lupa mendadak deh,  tapi cuma sejenak. Alias gak pakai lama. Saya bukan maksud mendoakan jelek loh ya,  tapi kalau memang merasa jelek,  ya sudah terima saja.  Karena sikap menerima itu, lebih mendamaikan.

Menurut Ayah Edy,  bullying sebenarnya adalah tradisi rimba. Hukum rimba siapa yang kuat dia yang menang. Maka disitu tercipta rantai makanan siapa makan siapa dan siapa dimakan siapa. Bullying tidak hanya sebatas perilaku kekasaran atau penganiyayaan saja, tapi banyak hal yang dikategorikan sebagai bullying sehingga akhirnya kita membentuk tradisi rimba di negeri ini yang dimulai dari proses pola asuh secara turun temurun, dan dari sini anak yang diasuh dengan proses bullying ada yang mengambil profesi sebagai pendidik. Jadilah mereka pendidik dengan gaya bullying.

Liputan6.com - Survei ICRW: 84% anak Indonesia alami kekerasaan di sekolah. (15/03/15). Kondisinya sudah memasuki tahap memperihatinkan, dalam hal ini, seharusnya tak lagi orangtua,  para pengajar,  tokoh parenting, maupun lembaga pendidikan baik formal maupun non formal, yang mengambil peranan, melainkan masyarakat yang lebih luas,  yaitu setiap orang, harus ikut serta berpartisipasi dalam mengambil sikap dan tindakan, setidaknya jika melihat kekerasan terjadi di sekitar kita, sebisa mungkin jika kita langsung membantu maka lebih baik,  namun ada juga cara yang lain yang lebih aman, yaitu melaporkan tindak kekerasan atau kejahatan ke Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) bisa melalui link http://lpsk.go.id. sebelumnya sudah pernah tau LPSK kah? Yups. Benar. LPSK itu sebuah lembaga mandiri yang didirikan dan bertanggung jawab untuk menangani pemberian perlindungan dan bantuan pada saksi dan korban berdasarkan tugas dan kewenangan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini. LPSK dibentuk berdasarkan UU No 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban. Saya kutip dari Wikipedia.

Nah,  hal itu kalau kita adalah pihak luar yang menyaksikan kekerasan,  kalau kita sebagai korban? Kita juga harus berani memberitahukan ke orang lain,  atau pihak tertentu untuk meminta pertolongan,  bisa juga ke LPSK. Gak perlu malu,  justru itu langkah awal untuk membebaskan diri, kecuali kalau kita punya jurus menghilang,  tring,  tiba-tiba bisa menghilang,  tring,  pas mau dikroyok misalnya,  kita langsung ke Paris, naik ke Menara Eiffel,  menikmati suasana romantis sambil swafoto. Cekrek.

"Kalau bukan kita siapa lagi,  kalau bukan sekarang kapan lagi?"
Bahkan jika di dunia ini tak ada yang bisa membantumu,  maka kaulah yang harus berjuang membantu dirimu sendiri,  ingat,  sekalipun kita sendiri,  hakikatnya selalu ada Tuhan yang membersamai.  Benar gak? Tetiba,  ada malaikat yang merasuki. Jleb. Atau Nunggu sampai babak belur, sampai harus operasi plastik,  gitu?  Biayanya mahal tau, ah.

Dan ayo, mulai hari ini,  besok,  dan seterusnya,  karena diam bukan pilihan, maka dari itu,  lebih baik memberitahu.
Karena fungsi mulut selain makan juga untuk berbicarakan?

Referensi:
1.https://id.m.wikipedia.org/wiki/Lembaga_Perlindungan_Saksi_dan_Korban
2.http://www.ayahedy.tk/2014/06/stop-bullying-mulai-dari-sekarang.html?m=1
3.https://www.google.co.id/amp/s/m.liputan6.com/amp/2191106/survei-icrw-84-anak-indonesia-alami-kekerasan-di-sekolah

1 komentar:

  1. Dari judulnya aja uda menarik. Dan pas liat isinya bener bener mendidik. Semangat terus nulisnya bu😊

    BalasHapus