Senin, 13 November 2017

Kepada Kota Seribu Kubah Kugantungkan Cita Hingga Langit-langitnya.

22.08 0 Comments
dear tuan puan,
tanah melayu, di kota seribu kubah, menjunjung tinggi adab,

nilai-nilai islam adalah panduan dalam mengolah pikir dalam mencerminkan laku.
adab tak beradab, tentulah beda
elok rupa semata, tak cukup saja
karena kita melayu, kita beradab, kita bersahaja.
lalu?
bukan berarti ilmu pengetahuan acuh tak acuh karena ia terus bertumbuh seperti pohon yang selalu diberi pupuk lagi disiram.
duhai, tuan puan,
beradab dan penuh pengetahuan ialah senjata yang harus diseimbangkan, agar kelak tak ada lagi pribumi yang menjadi budak di negeri sendiri.
atau mengemis demi sepiring nasi.
Jadi, biarkanlah kami belajar dengan nyaman, di tanah ini, kampung halaman tercinta.
kami mengabdi. 
(Kota Seribu Kubah, November 2017)

Fenomena yang menjadi Kesenjangan.

Kemajuan yang signifikan terlihat sangat pesat bagi yang tinggal di kota dibandingkan yang tinggal di daerah, masih banyak yang harus dibenahi, mulai dari infrastruktur, kecanggihan teknologi, kemudahan mengakses informasi, kegiatan edukatif serta pengembangan diri, pengolahan sumber daya alam dan proses pemasaran.


Salah satu faktor yang merupakan tolak ukur majunya sebuah kota, dilihat dari seberapa tinggi kualitas pendidikannya baik formal maupun non formal. Lalu menguasai ilmu pengetahuan erat kaitannya dengan budaya membaca.


Indonesia termasuk negara yang minat bacanya rendah. Berdasarkan studi "Most Littered Nation In the World" yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016 lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca. Indonesia persis berada di bawah Thailand (59) dan di atas Bostwana (61).


Menurut Pak Anies, yang waktu itu masih menjabat sebagai menteri pendidikan mengatakan bahwa Indonesia masih sangat minim memanfaatkan infrastruktur. Jadi, menurut beliau, indikator sukses tumbuhnya minat membaca tak selalu dilihat dari berapa banyak perpustakaan, buku dan mobil perpustakaan keliling.


Nah, itu situasinya di kota, infrastruktur pendukungnya ada, beda halnya di daerah, yang memang tidak ada fasilitas perpustakaan, rumah baca, atau pun mobil perpustakaan keliling. Seperti kondisi yang ada di Kec. Balai Jaya, Kab. Rokan Hilir, Riau. sangat kentara bedanya. Bisa dilihat bahwa, infrastruktur yang cukup memadai pun ternyata tidak mampu untuk meningkatkan minat baca masyarakat. Apalagi minimnya infrastruktur itu sendiri.


Dengan kondisi tersebut, agaknya Pemerintah daerah lebih memperhatikan lagi persoalan ini, dengan menggencarkan semangat membaca masyarakat yang tinggal di daerah, seperti di Kelurahan Balai Jaya Kota, Kec. Balai Jaya, Kab. Rokan Hilir, Riau. Baik sebagai fasilitator penyedia infrastruktur, maupun membuat program dan suatu gerakan yang memicu tumbuhnya budaya baca.
Meskipun efek dari sebuah gerakan biasanya lebih cepat menyebar dibanding program.
"Movement kalau sudah menular maka akan unstoppable, sebab menularnya bukan karena perintah, dana, dan program tapi karena ada penularan." Kata Pak Anis Rasyid Baswedan.
Namun upaya membuat program juga salah satu cara baik, dalam menumbuhkan minat baca.


Pentingnya Budaya Membaca


Buku adalah jendela dunia.
(Anonim)


Apa saja manfaat membaca ya?
Bukan sekedar proses dari tidak tahu menjadi tahu. Dengan membaca seseorang bahkan seolah telah melakukan perjalanan keliling dunia. Selain itu, dengan membaca bisa menambah wawasan, pemahaman, melakukan wisata hati, serta mengejar ketertinggalan, apalagi sekarang teknologi semakin mutahir, jadi bagi siapa yang tidak bisa mengikuti zaman, maka akan tergerus oleh zaman itu sendiri.


Mengulik kondisi Kota Seribu Kubah.


Indonesia selain terkenal sebagai negara maritim, juga sangat kental dengan suku melayu. Sepanjang pulau Sumatera sebagian besar didiami oleh suku melayu. Dan Riau salah satu provinsi yang mayoritas penduduknya bersuku melayu. Riau merupakan destinasi yang cukup banyak dikunjungi, melihat upah minimum regional (UMR) Riau cukup tinggi dibanding provinsi lain yang ada di Sumatera, sumber daya alam Riau yang cukup melimpah seperti minyak bumi, gas alam,  dan batubara, mengundang pengusaha untuk berinvestasi dan membuka usaha. Namun demikian, dalam hal pendidikan masyarakat Riau umumnya dan Kec Balai Jaya khususnya, terbilang belum bisa dikatakan maju.


Di Kelurahan Balai Jaya Kota, Kec. Balai Jaya, Kab. Rokan Hilir, Riau. Dibawah kepemimpinan Bapak Samsuhir, S.Pd adalah daerah dekat perbatasan antara Provinsi Sumatera Utara dengan Provinsi Riau, khususnya di Kec. Balai Jaya, merupakan Kecamatan baru pemekaran dari Kec. Bagan Sinembah. Oleh karena itu, masih banyak yang harus dibenahi. Melihat kondisi Kec. Balai Jaya, yang sebagian wilayahnya masih sulit memperoleh jaringan, baik seluler maupun internet. Akan menghambat masyarakat untuk berkomunikasi dan mendapatkan informasi. Selain itu, mengenai jalan, masih ada dibeberapa titik, misalnya di kampung Sungai Dua, masih harus dilakukan perbaikan, kondisi tanah yang tidak rata, sebagian tidak diaspal, sebagian lagi mengalami kerusakan, ada lubang di mana-mana, cukup mengganggu kegiatan atau bahkan membahayakan masyarakat sebagai pengguna jalan serta minimnya lampu penerangan jalan. Kemudian, mengenai sarana dan prasarana pendidikan, terbilang sangat kurang. Di mana, tidak tersedianya perpustakaan, atau sekedar rumah baca, maupun toko buku yang layak, yang bisa dikunjungi masyarakat, khususnya pelajar, pembelajar, serta pengajar.


Segenggam Asa, Cita, dan Cinta


Di mana bumi dipijak, disitu pula langit dijunjung.


Pribahasa klasik itu tampaknya selalu relevan disetiap zaman. Bumi Ibu Pertiwi merupakan anugerah besar yang Tuhan berikan, sudah sepatutnya sebagai manusia yang telah diberikan banyak kenikmatan serta telah diberikan kesempatan sebagai bagian dari bangsa ini, memberikan sumbangsih, berpartisipasi aktif untuk menjadikan Indonesia semakin jaya.
Sebagai generasi penerus Bangsa, impian terbesar mengharumkan nama Indonesia ke seantero Jagad Raya serta meninggikan harkat martabat adalah bukan sekedar kata-kata melainkan tekad yang harus diazamkan kuat masuk sampai ke dalam sumsum tulang setiap rakyatnya, agar sekeras tenaga untuk mewujudkan Indonesia damai dan sejahtera.
Referensi:
1.http://googleweblight.com/?lite_url=http://edukasi.kompas.com/read/2016/08/29/07175131/minat.baca.indonesia.ada.di.urutan.ke-60.dunia&ei=Mixbvwns&lc=id-ID&s=1&m=344&host=www.google.co.id&ts=1510582067&sig=ANTY_L0ihC8T1T892f-G1M1gHP0RoJYLzg