Senin, 11 Desember 2017

Dear Ayah

20.37 0 Comments
Dear Ayah,

Rugi rasanya, kalau gak ada perdebatan diantara kita. Dan akhirnya saat situasi menegang, Ayah memilih untuk diam, padahal aku tau Ayah seorang pendebat sejati di forum. Aku si sulung yang keras kepalakan, Yah? Mirip Ayah? Iya, kata Ibu, aku yang paling mirip Ayah. Apalagi kalau soal ngotot, persis seperti Ayah.
Tapi bagaimanapun, Ayah adalah orang yang sering aku mintai pendapat, apalagi soal perasaan, Ayah yang membantuku untuk berpikir logis. Supaya gak jadi korban oleh perasaan sendiri. Jangan sampai deh, seperti D'masiv- cinta ini membunuhku. Tragis, bukan?

Ayah, meskipun kebersamaan kita dipenuhi perdebatan dan diskusi, namun Ayah seorang yang juga bisa kuajak bercanda. Dan gak melulu, penuh dengan keseriusan maupun candaan, malah kadang ada drama merajuk juga. Aku yang merajuk, nanti gantian Ayah. Nanti gantian aku lagi, ayah lagi, dan begitu seterusnya. Kalau ingat itu, aku bisa ketawa sampai guling-guling di lapangan basket.


Moment with Ayah,

"Nanti Ayah usahakan, ya" kata-kata itu seperti mantra, mengusir kekhawatiran. Aku yang kadang tak tau diri ini, sesuka hati, meminta ini-itu. Ayah, maafkan aku.

"Ayah jangan marah ya, aku mau bilang sesuatu nih. Tapi ayah janji dulu, jangan marah."
Dan biasanya, Ayah justru langsung memarahiku. Habislah aku. Wkwkwk

"Anak Ayah, mana ada yang lemah. Siapa dulu dong Ayahnya."
Setiap kali aku curhat, karena merasa teraniaya, Ayah selalu bisa membetulkan suasana hatiku.

Kepada Ayah, yang selalu kumintai sesuatu. Aku akan terbata jika harus bilang sayang langsung di hadapan Ayah. Mungkin lidahku akan mendadak kelu, seolah tak pandai bicara. Atau mungkin, tiba-tiba aku jadi encok, diam, gak bisa bergerak. Tapi hatiku, mampu untuk mengatakan aku sayang Ayah. Aku rindu Ayah.

Ayah, jika di dunia, kemungkinan aku tak bisa memberikan sesuatu yang berarti, semoga kelak di akhirat aku berarti untukmu.

Terimakasih telah menjadi sebaik-baiknya Ayah untukku.

November 2017

*cerita ini pernah diikutsertakan lomba dan tidak menang, hahaha
Tapi, bukan berarti kisah aku dan ayah tidak menarik, hanya saja aku tidak beruntung dilomba itu.








C e r i t a K a d a l u a r s a

19.26 0 Comments
(Mungkin) lupa/terlupa/melupa
kapan aku jatuh hati,
waktu terus berjalan,
bahkan berlari,
meninggali.

nyaris,
kenangan yang ada di belakang,
takdapat kukenali.
wajahmu samar,
beberapa rentetan kejadian hilang tak lengkap lagi di dalam ingatan.

namun suatu hari nanti
jika pertemuan memaksa bertemu (lagi)
'mau tak mau' kususun puzzle itu, merangkai satu, satu,
menemukan yang seperlunya,
meninggalkan pula yang sepatutnya.

dan bila,
pertemuan terus memaksa (kita) bertemu,
kan kusambut dengan hati yang dipenuhi kelapangan,
bukan maksud menyematkan secercah harapan atau sekadar mempersilahkan
namun takpula ingin menolak sebuah kedatangan
karena kita bukan lawan
atau sepasang yang saling berkasih sayang. bukan apa, bukan kenapa.

aku, kamu, adalah bohemian yang terus mencari jalan pulang,
m a s i n g - m a s i n g.
sesama pengembara agaknya saling pengertian,
sebagai insan milik Tuhan.

pertemuan (lagi), berarti harus suci, takmau nodai oleh rasa yang sempat diukir menjadi bunga-bunga yang bau wangi atau saat kecewa, membuat bunga menjadi sendu tak beraura serta tak beraroma.

jika kita berjumpa (lagi),
baiknya kita mulai dari
menanyai kabar,
berbagi inspirasi,
memberi amunisi mengaktualisasi diri, (dulu, aku baru bisa menulis, jika membaca apa yang kamu tulis, tapi sekarang ritual itu sudah lama berada di belakang - aku tak perlu melakukannya lagi).
bercanda secukupnya,
menghormati semampunya,
menjadi teman diskusi,
saling mengapresiasi.

tiba-tiba aku (terusik) pada sebuah memori,
dulu kau bilang,
"Kamu adalah puisi." sontak kumelongo.

aku tak paham dan takpernah paham maksudnya, sampai detik ini.
waktu itu, aku terburu melirik ke arahmu,
sebentar. (jika kau sampai tau, mati-lah aku dimakan malu)
hanya karena diburu penasaran yang hebat,
memastikan ekspresi apa yang kau tampilkan saat mengucap demikian.

hati hendak menerkanerka namun takut keliru menafsirkan, takut salah paham, bisa jadi bumerang menyakiti sang (empu).
jika harapan terlalu membubung tinggi, kalau jatuh,  sakitnya pasti bukan main, syukur bila selamat, karena yang memungkinkan lainnya, aku akan mati karena 'rasa' itu seketika
atau p e r l a h a n.

Duh,
Ini kejadian sekelabat muncul, karena tak mau kubendung atau memaksa pikiran untuk mengeluarkan.
biarlah aku menuliskannya, seadanya saja.

jika semua sudah selesai, aku takperlu mencemaskan apapun, bukan?
"Karena kenangan itu bukan untuk dilupakan, biar saja ia tinggal, sebagai penghuni, aku hanya ingin berdamai."

menempatkanmu sebagai bagian dari kisah
aku takharus resah
kini tinggal sejarah yang senantiasa mesti dijaga
diambil sebuah ibrah
yakin ada hikmah di sana

sudah,

aku, kau, dan cerita kadaluarsa.
pun tetap harus bertegur sapa jika saat nanti tak sengaja berkumpul (di) rumah yang dulu mempertemukan kita.

sudah,


_Momiji_
Desember 2017

(Di sini lagi musim hujan,
Sore, siang, malam, pagi, sama saja.
Kadang tanpa tedeng aling-aling (ia) datang - dan kita hanya perlu mensyukuri segala sesuatunya)