Senin, 11 Desember 2017

Dear Ayah

Dear Ayah,

Rugi rasanya, kalau gak ada perdebatan diantara kita. Dan akhirnya saat situasi menegang, Ayah memilih untuk diam, padahal aku tau Ayah seorang pendebat sejati di forum. Aku si sulung yang keras kepalakan, Yah? Mirip Ayah? Iya, kata Ibu, aku yang paling mirip Ayah. Apalagi kalau soal ngotot, persis seperti Ayah.
Tapi bagaimanapun, Ayah adalah orang yang sering aku mintai pendapat, apalagi soal perasaan, Ayah yang membantuku untuk berpikir logis. Supaya gak jadi korban oleh perasaan sendiri. Jangan sampai deh, seperti D'masiv- cinta ini membunuhku. Tragis, bukan?

Ayah, meskipun kebersamaan kita dipenuhi perdebatan dan diskusi, namun Ayah seorang yang juga bisa kuajak bercanda. Dan gak melulu, penuh dengan keseriusan maupun candaan, malah kadang ada drama merajuk juga. Aku yang merajuk, nanti gantian Ayah. Nanti gantian aku lagi, ayah lagi, dan begitu seterusnya. Kalau ingat itu, aku bisa ketawa sampai guling-guling di lapangan basket.


Moment with Ayah,

"Nanti Ayah usahakan, ya" kata-kata itu seperti mantra, mengusir kekhawatiran. Aku yang kadang tak tau diri ini, sesuka hati, meminta ini-itu. Ayah, maafkan aku.

"Ayah jangan marah ya, aku mau bilang sesuatu nih. Tapi ayah janji dulu, jangan marah."
Dan biasanya, Ayah justru langsung memarahiku. Habislah aku. Wkwkwk

"Anak Ayah, mana ada yang lemah. Siapa dulu dong Ayahnya."
Setiap kali aku curhat, karena merasa teraniaya, Ayah selalu bisa membetulkan suasana hatiku.

Kepada Ayah, yang selalu kumintai sesuatu. Aku akan terbata jika harus bilang sayang langsung di hadapan Ayah. Mungkin lidahku akan mendadak kelu, seolah tak pandai bicara. Atau mungkin, tiba-tiba aku jadi encok, diam, gak bisa bergerak. Tapi hatiku, mampu untuk mengatakan aku sayang Ayah. Aku rindu Ayah.

Ayah, jika di dunia, kemungkinan aku tak bisa memberikan sesuatu yang berarti, semoga kelak di akhirat aku berarti untukmu.

Terimakasih telah menjadi sebaik-baiknya Ayah untukku.

November 2017

*cerita ini pernah diikutsertakan lomba dan tidak menang, hahaha
Tapi, bukan berarti kisah aku dan ayah tidak menarik, hanya saja aku tidak beruntung dilomba itu.








Tidak ada komentar:

Posting Komentar