Selasa, 09 Januari 2018

H A R M O N I S A S I

Harmonisasi
Oleh: Suci Widyasari Tanjung

I
Apa sukarnya meminta maaf.
“Maaf atas kebodohan mengartikan.”
Apa payahnya mengucap Terima Kasih.
“Terima Kasih atas pengertian yang diberi.”

Ego yang menjadikan kita angkuh.
Padahal ego akan binasa bersama hayat di kandung badan.

Disebabkan kehormatan.
“Bukankah, orangorang dihormati karena rendah hati,
mengalah,
menjauhi selisih?”

Disebabkan kedudukan.
Kita merasa di atas karena ada yang merasa di bawah,
seharusnya kita saling menyatakan apresiasi.
Pun di bawah takpatut untuk bersusah hati.

Lalu karena apa kita berbangga hendak menang sendiri?
“Hakikat pemenang sesungguhnya, saat ia mampu membunuh setiap nafsu yang tumbuh, nafsu ingin melebihi orang lain.
Bukankah orang yang kuat yang menang dalam pergulatan akan tetapi orang yang kuat ialah yang mampu menahan hawa nafsunya saat marah."


Maka tanyai hati.
“Karena apa, pantaskah.”
Apa karena amal.
“Manusia tak berhak jadi juri, soal amal urusan kepada Tuhan, ibadah itu untuk Tuhan, jangan kita menjelma seolah Tuhan.”
Jadi karena harta.
“Harta itu benda. Benda itu mati. Sesuatu yang mati tak bisa diajak untuk sombong. Nanti mati, kita tak bawa benda.”

II
“...jika segumpal daging itu suci, maka sucilah seluruhnya.
Jika segumpal daging itu kotor, maka kotorlah seluruh tubuh. Segumpal daging itu bernama hati.
Mari kita menyapanya lalu mengajaknya pulang ke rumah.”

Hari ini anak adam suka bercakapcakap, sesuatu diperdebatkan diangkat kepermukaan, dijadikan permasalahan, masalah karena suatu hal dibuat rumit.
Semut-semut api dianggap biang keladi membikin rusuh.
Nyamuk bawa bibit penyakit, kerjaannya menghisap darah, nyamukpun dipersalah.
Sebagai pemrakarsa cari gaduh.
Jika semua terlihat salah maka segera kunjungi hati,
tanyakan padanya gerangan yang terjadi.

Hari kemarin, belum lagi tentang alam.
Orangorang membicarakan angin, hujan, topan, panas, gunung meletus, banjir, bandang, berduyunduyun mereka membincangi takberkesudahan.
“Alam ini milik Tuhan, manusia bagian dari alam.
Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi.
Manusia, tumbuhan, hewan, perlu hidup berdampingan untuk kemaslahatan.”

Maka datangi hati, kenapa jarang sekali mensyukuri.

Hari akan datang,
semoga antara manusia dengan manusia,
antara manusia dengan alam,
antara alam dengan alam,
saling menjaga agar terjaga dalam waktu lama,
berbahagia bersama selama

Taklupa membawa hati kemanamana.

Kota Seribu Kubah, 8 Desember 2017



*puisi ini pernah diikutsertakan dalam lomba cipta puisi se-ASEAN yang  diadakan Dema Ftik Purwokerko 2017 (tidak terpilih 100 puisi yang dibukukan)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar