Minggu, 04 Maret 2018

Menjadi Si Cerdas Ini, Ternyata Tidak Perlu Membuatmu Bangga

07.48 0 Comments
Saya temukan cerita ini, di dalam buku "Menggali ke Puncak Hati" karya Ustad Salim A Fillah. Pada halaman 237.

Begini ceritanya,

Seorang yang bernama David J. schwartz. Sedang bersama seorang direktur perusahaan manufaktur. Perusahaannya itu berkembang sangat pesat.

Lalu, selama mereka bersama. Tidak sengaja menonton siaran televisi. Acara kuis, yang populer pada waktu itu.

Salah seorang peserta berhasil tampil, dalam beberapa pekan belakangan ini. Dia sebagai peserta yang mampu bertahan. Menjawab soal-soal kuis dengan sempurna.

Kali ini juga sama. Sepertinya dewi fortuna masih ingin membersamainya lebih lama. Peserta tersebut berhasil menjawab pertanyaan ganjil tentang gunung di Argentina.

Tiba-tiba, Pak Direktur memandang ke arah David. Sambil mengajukan pertanyaan.

"Menurut kamu, berapa banyak saya akan membayar anak muda itu, jika ia bekerja untuk saya?" Pak Direktur, menunjuk ke arah televisi.

"Hmm.. Berapa ya, Pak?" David ragu menjawab, dia takut keliru.

"Tidak lebih dari £100. Bukan per minggu, bukan per bulan, tetapi seumur hidup! Saya sudah menaksirnya. Si cerdas ini tidak bisa berpikir. Ia hanya dapat menghapal. Ia hanya ensiklopedi berjalan. Dan saya kira, dengan £100 saya sudah bisa membeli satu set ensiklopedi yang bagus."

Pak Direktur, semangat menjelaskan. Kemudian beliau kembali melanjutkan.

"Yang saya inginkan di sekeliling saya, adalah orang yang dapat memecahkan masalah dan memikirkan gagasan. Orang yang dapat bermimpi dan mengembangkan mimpi itu, menjadi aplikasi praktis. Manusia-gagasan, bisa menghasilkan sesuatu. Manusia-fakta, tidak sama sekali."

Sampai pada kalimat terakhir. Pak Direktur tampak sangat antusias menjelaskan.

Lalu David, mengangguk tanda sedang mendengarkan beliau. Pelan-pelan mencerna setiap kalimat yang baru saja didengarnya, untuk mengambil pemahaman dari sebuah pemikiran di kepala Pak Direktur.

Di cerita lain, saat Einstein ditanya, ada berapa meter dalam satu mil.

Maka ini jawabannya,

"Tidak tau. Lihat saja di buku teks. Buat apa mengisi otak dengan hal-hal yang bisa dengan mudah ditemukan di tempat lain?"

Wkwkwk... Seorang Einstein jawabannya begitu. Kalau jawaban kita apa ya?


Buku Menggali ke Puncak Hati, Karya Ustad Salim A Fillah ini, nampaknya harus dimiliki setiap orang yang berencana melakukan perbaikan diri.

Sabtu, 03 Maret 2018

Kertas Musnah, Ini yang Terjadi pada Smartphone Kamu.

20.23 0 Comments
Kertas bukan lagi sebagai media utama untuk memenuhi kebutuhan manusia. Sekarang dunia digital mengambil peranan penting tak hanya sekadar dapat memenuhi kebutuhan, tapi memudahkan pekerjaan manusia.
Maka manusia sadar atau tidak mulai menunjukkan sikap ketergantungan terhadap smartphone yang mereka miliki. Menjadikan smartphone sesuatu yang sangat penting untuk dianggap lebih, tidak hanya sebuah fasilitas melainkan dianggap sebagai partner.

Melihat banyak hal yang bisa dikerjakan atau diselesaikan hanya dengan smartphone maka tingkat ketergantungan manusia terhadap smartphone akan semakin meningkat, seiring dengan penggunaannya tanpa batas.

Penggunaan smartphone yang berlebihan akan memberikan dampak negatif. Sebagai berikut:

1. Membuat Efek Candu.

Meningkatnya sikap anti sosial maka manusia akan kecanduan terhadap smartphone, seolah tak bisa hidup tanpa smartphone atau gawai lainnya.  Semakin sibuk dengan dunia mereka sendiri, menghabiskan banyak waktu di depan layar smartphone mereka, menyelesaikan pekerjaan, memperoleh segudang informasi, bahkan asyik berkomunikasi dengan orang yang jauh namun mengabaikan interaksi sosial dengan orang dekat yang berada di sekitar.

2. Bangkai Smartphone Menumpuk.

Bahkan saking kecanduannya manusia terhadap smartphone, satu orang bisa memiliki dua, tiga, atau lebih smartphone. Keinginan manusia tidak terbatas. Semakin hari maka semakin merasa membutuhkan. Hal itu akan menjadikan bangkai smartphone yang sudah tak terpakai menjadi sampah yang dapat membahayakan bumi. Karena bahan-bahan smartphone merupakan bahan yang sulit terurai.

Semakin maju ilmu pengetahuan dan teknologi, manusia harus cerdas menyikapi dunia digital jangan sampai menjadi budak dari kemajuan itu sendiri.

Jika kebiasaan itu terus berkelanjutan, maka smartphone diposisikan sebagai Raja, lalu si pengguna sebagai budak. Mari kita lebih bijak menyikapi majunya teknologi.


Kamu Pernah Dilema? Memilih Keinginan Hati atau Mengabaikan, Karena Berbagai Hal.

14.55 0 Comments
Picture from facebook kartun muslimah.


Hei, pilih mana?

Pekerjaan yang bergaji besar. Sehingga memenuhi kebutuhan pribadi dan dapat membantu keluarga.

Atau,

Kerjaan, tak menentu. Kadang ada, kadang tidak. Tinggal bersama keluarga dan dekat dengan orang-orang shalih, Insyaa Allah.

Atau,

Gimana kalau, punya uang banyak, berkesempatan mengaktualisasikan diri, berkarya, berguna bagi orang lain,  tinggal bersama keluarga, dan dikelilingi orang-orang shalih. Andai-andai yang sempurna, bukan? Saya pilih inilah. Hahaha

Padahal, sekalipun saat orang sudah pada posisi itu, masih saja merasa ada yang kurang. Manusia oh manusia. Tidak pernah puas jika menuruti keinginan.

Saya mengalami ini, antara keinginan dan pilihan yang ada di depan mata tidak sesuai. Sulit ya, di hadapkan pada situasi begini. Rencana, doa, harapan, impian, yang telah saya adukan pada Allah, seolah tidak didengar. Karena realita yang dijalani, lain dari yang pernah saya rencanakan.

Bukankah, Allah akan mendengar harapan-harapan baik dari hamba-Nya?
Dan saya pikir, impian yang saya rangkai selama ini, adalah hal baik, yang seharusnya Allah akan memuluskan jalan bagi saya.

Praktisi anak, S2, penulis, belajar Islam lebih banyak, aktif dalam kegiatan charity, dsb. Bagaimana? Apa itu bukan impian-impian yang penuh kebaikan?

Tiga tahun, saya habiskan untuk memahami kondisi ini. Seharusnya ada hikmah dibalik setiap skenario Allah kan? Dengan bekal ilmu yang masih dangkal, saya pelan-pelan bersabar.

Yang jelas, Allah Maha Pengasih, meskipun tidak selalu mengabulkan segala pinta.
Yang jelas, Allah Maha Penyayang, meskipun silih berganti ujian menghadang.

Pentingnya Mengenal Allah.

"Orang-orang beriman itu, jika ditimpa musibah ia bersabar, jika diberi nikmat ia bersyukur.

Sabar dan syukur adalah jurus ampuh, agar merasa bahagia di mana pun dan kapan pun.

Menguasai jurus itu, berarti kita akan lebih dekat dengan Allah. Kita bisa mengenal Allah. Lalu merasa tenang atas segala yang Dia gariskan untuk kehidupan kita. Karena sepenuhnya sudah yakin kepada Allah.

Jadi jika dilema melanda, berlarilah ke arah Allah, dekati Dia, lebih dekat lagi, dan jauh lebih dekat. Sampai kita paham, kenapa hidup kadang begini-kadang begitu. Ini lagi ngomong sama diri sendiri.

Apa cuma saya yang dilema? Saya berharap, kawan saya banyak dalam hal ini. Gak enak kalau cuma sendirian, hahaha..

Tentu setiap orang, ingin kehidupannya lebih baik setiap hari. Suka atau tidak suka, mau tidak mau, hidup tetap hidup. Harus ingat, kembali pada tujuan Allah menciptakan manusia.

"Semata-mata untuk beribadah kepada Allah. Di mana pun, kapan pun, dan bagaimana pun."

Kalau kita berdamai saja bagaimana, wahai dilema? Perasaan tidak menerima itu, karena lemah hati. Nah, dengan belajar ilmu-ilmu Allah, merupakan solusinya.

Karena sampai pada tujuan akhir lebih prioritas. Apa tujuan akhir itu? Surga.