Minggu, 11 November 2018

Cerita Di bawah Langit

Sumber: travel.tribunnews.com
Dulu sekali.

Ciya dan Mei pernah mengobrol tentang sebuah keinginan.

Mereka saling mengutarakan dan merasa senang setelahnya.

Bahwa hidup itu petualangan.

"Aku lahir di sini, remaja di sini, apa nanti aku juga kerja di sini? Hah, kelak aku gak mau mati di sini, Mei." Kata Ciya yang saat itu sedang bersemangat.

Tiba-tiba saja di dalam pikirannya, kelak hidupnya harus berubah. Harus banyak yang dilakukan.

Tinggal di tempat yang bahkan tidak mampu dibayangkannya.

"Sama Ciya. Aku juga ingin berkelana. Menemukan sesuatu yang seru. Apa nanti kita pergi jauhnya bersama aja ya?"

Tawa mereka lepas. Mereka tampak dipenuhi angan yang indah.

***
Delapan tahun kemudian. Selama itu mereka belum pernah berjumpa.

Tanpa kabar. Mereka berpisah.

Kejadian begitu cepat terjadi, banyak hal yang tidak dapat dimengerti.

Dulu Ciya masih berusia 11 tahun.

Saat kedua orang tuanya bercerai. Banyak hal yang menghilang darinya. Diantaranya Mei.

Dia kehilangan sahabat terbaiknya.

***
Dipenghujung kelulusan SMA, saatnya memilih jurusan. Ciya masih bimbang. Diantara dua pilihan.

Dari kecil, Ciya sangat ingin menguasai Bahasa Inggris. Dan berniat nanti kalau punya kesempatan kuliah, Ciya akan mengambil jurusan Sastra Inggris.

Karena impian terbesarnya adalah berpetualang sampai ke luar negeri.

Pergi dari negara ini. Mungkin ada sesuatu yang menakjubkan. Pikirnya.

Mungkin karena Ciya merasa jenuh dengan kehidupan yang sedang dijalani.

Namun akhir belakangan ini dia merasa ada sesuatu yang salah di dalam hidupnya.

Karena hal itu. Akhirnya dia memilih jurusan Psikologi.

"Selamat tinggal Sastra Inggris. Suatu hari aku akan memilihmu. Saat ini biarlah aku coba untuk memahami apa yang terjadi di dalam tubuhku ini."

Keputusannya mengambil jurusan Psikologi, bukan muluk-muluk.

Dia ingin belajar untuk menerima semua yang dialami. Baik yang dia sukai maupun tidak.

Apa kita berhak memilih jalan apa yang ingin kita lalui?

Apa rasa sakit yang kita rasakan karena kita yang keliru memulai langkah?

Ada banyak pertanyaan yang berkecamuk.

Semoga nanti Ciya akan paham. Dan hidup bahagia.

***

Hidup tak selalu mudah. Akan silih berganti ujian menghampiri. Tanpa aba-aba, ia datang seperti angin. Lalu pergi pun seperti angin.

Langit sore yang syahdu. Telah usai perjalanan hari ini, saatnya burung-burung bergegas pulang. Perut mereka sudah kenyang. Waktunya bercengkrama dengan keluarga. Di dalam sangkar mereka yang hangat.

Tampaknya burung hidup dengan mudah, ya.

Ciya mulai cemburu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar