Rabu, 25 Maret 2020

Pencernaan Bahagia, Makan Sayur Mentah.

23.56 0 Comments
"Makan sayur mentah?"
"Iya, kenapa?"
"Jangan ngalahi kambing, dong."

Sebagian masyarakat masih ragu untuk makan sayur mentah, beragam alasan mulai dari takut bahaya pestisida, bakteri, atau keracunan. Padahal pestisida juga tidak hilang saat dimasak. Sedangkan jika kita mencuci sayur dengan benar dan tahu sayuran apa yang bisa dimakan mentah, efek positif akan segera kita rasakan. Terlebih lagi pada penderita penyakit serius, seperti kanker, makan sayur mentah sekitar 80% akan membantu proses penyembuhan.

Pada dasarnya vitamin mudah teroksidasi, sayur yang dimasak jelas berkurang zat vitaminnya. Ada alternatif cara makan sayur untuk mendapatkan vitaminnya dalam jumlah besar yaitu dibuat smoothie atau jus, meskipun masih lebih baik saat makan dalam bentuk yang utuh.

Setiap tanaman punya racun alami, oleh karena itu, makan sayur harus bervariasi, supaya racun alami tidak menumpuk di dalam tubuh. Dan tubuh mendapat nutrisi yang cukup.

Berikut beberapa resep green smoothies dan jus yang saya suka, yang mungkin bisa dijadikan inspirasi.

Green smoothies

1. Bahan: Pokcoy, Timun, air kelapa muda, alpukat, tambahkan cuka apel, minyak zaitun/VCO
(Air kelapa bisa diganti dengan air biasa)

2. Bahan: Daun Katuk, Daun Kare, Daun Kemangi, Timun, air kelapa, VCO/Minyak Zaitun.

3. Bahan: Bayam, sawi, timun, VCO, Air kelapa.

(Dan sebenarnya masih banyak lagi sayuran yang bisa dibuat smoothie, asal jangan daun singkong ya)

Jus

1. Bahan: wortel, bit, bengkuang, air, VCO.

2. Bahan: Jahe, Bengkuang. (Susu Jabeng)

Selain dibuat smoothie atau jus, membuat salad juga bisa sebagai alternatif. Kebiasaan orang-orang Mediterania makan salad, membuat mereka dijuluki sebagai pola makan yang paling sehat di dunia. Saya kutip dari klik di sini

Diawal mencoba mungkin lidah kita butuh penyesuaian, membentuk kebiasaan pola makan yang baru butuh waktu, jadi lakukan dengan santai sealami mungkin ya, pelan-pelan tubuh kita akan terbiasa. 

Benarkah Masalah Orang Dewasa Lebih Rumit?

17.02 0 Comments
Sumber: pinterest.com

"Biasalah masalah anak-anak, kok."

Beberapa orangtua masih menganggap remeh masalah yang dihadapi anak-anak. Saat anak mulai terlibat percekcokan dengan teman sebaya, atau menunjukkan sikap dekstruktif, orangtua mulai marah kepada mereka, melerai, tapi tidak berusaha mencari akar masalah dan memberi solusi yang tepat, memberikan pemahaman yang baik, sebagai tindakan pencegahan aksi yang lebih ekstrim.

Orang dewasa sering berpikir masalah yang tengah dihadapinya lebih rumit daripada masalah yang dihadapi remaja atau bahkan anak-anak. Benarkah pendapat semacam itu? 
Bukankah tidak ada masalah kecil atau remeh, setiap masalah sudah sesuai dengan takaran masing-masing? Dan setiap masalah membutuhkan jalan penyelesaian. 

Bisa saja karena sikap acuh tak acuh orangtua, anak mulai mengambil tindakan sendiri yang mungkin akan merugikan dirinya atau orang lain. Baru-baru ini kita dikejutkan kasus anak perempuan berusia 15 tahun membunuh anak berusia 6 tahun dengan sadis, di kawasan Sawah Besar Jakarta Pusat, pada kamis (5/03/2020). (Dikutip dari media suara.com). Melihat kondisi ini, orangtua harus lebih ekstra mengawasi perilaku anak-anak. Agar hari-hari kedepan, anak -anak tumbuh dengan semestinya, dipenuhi hal-hal yang membahagiakan, sehingga menjadi pribadi yang positif. 

Ada sebuah kasus:
"Seorang anak menggigit temannya karena Ia kesal temannya tidak mau berbagi dan main bersama. Padahal hari-hari Ia termasuk anak baik, yang suka berbagi. Tapi karena Ia tidak mendapatkan perlakuan yang sama, Ia tak bisa mengendalikan emosi marah."

Nampaknya sederhana ya kasus diatas? Tapi itu adalah cikal bakal permasalahan yang lebih serius. Jika kondisi itu terjadi berulangkali, dan si anak juga tidak mampu menanggapi dengan positif, maka akan memengaruhi karakternya. Yang tadinya Ia suka berbagi, karena kesal, mulai muncul hasrat balas dendam, bisa jadi Ia melakukan hal yang serupa. 

Lebih mudah belajar dari pengalaman, entah itu pengalaman yang baik atau buruk. Setiap pengalaman adalah pelajaran hidup. Dan anak-anak juga akan belajar dengan kemampuan berpikirnya yang terbatas. 

Nah, jadi orangtua ternyata tidak gampang ya? Butuh pembekalan ilmu yang mumpuni. 

Minggu, 08 Maret 2020

Jurus Awet Muda, Jurus No. 4 Ternyata yang Paling Penting.

18.14 0 Comments
Sumber gambar: likedetox.wordpress.com

Kata orang jurus awet muda itu:

Yang pertama, harus lebih banyak berpikir positif, bisa mengolah pikiran dengan baik, supaya nggak sering distress (stres negatif). Salah satu caranya dengan menyibukkan diri melakukan kegiatan sesuai passion. Atau yang paling sederhana tapi ternyata sulit dilakukan yaitu menerapkan ilmu ikhlas dan sabar.

Yang kedua, rajin bergerak alias olahraga secara rutin. Semakin banyak gerak, maka hormon endorfin (hormon kebahagiaan) semakin meningkat, sedangkan homon kortisol (yang memicu stres) semakin berkurang.

Yang ketiga, makan makanan sehat, maksudnya makanan alami dan nggak panjang proses pembuatannya. Pencernaan peranannya sangat besar. Pencernaan yang tak sehat tenyata bisa menimbulkan anxiety (kecemasan) atau mudah mengalami panic attack (serangan panik).

Yang keempat, sebenarnya ini yang paling penting dan utama, karena meng-cover ketiga jurus di atas. Yaitu tingkatkan ibadah, mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Kalau caranya benar pasti jurus pertama sampai ketiga bisa kita lakukan. Alquran dan sunnah sudah jelas sebagai pedoman kehidupan.

Untuk membuktikan kebenaran jurus-jurus tersebut, bagaimana kalau kita coba melakukannya?

Jumat, 06 Maret 2020

Bukan Tak Ingin Menikah, Takdirlah yang belum Tiba.

00.21 0 Comments
Sumber gambar: carabaruq.com

"...nikahlah, nikah..."
Sering kali ujung obrolan ditutup dengan himbauan untuk segera menikah.

"Alhamdulillah, saya masih tertarik dengan lawan jenis, tidak ada masalah orientasi sex."

"Nikahlah!"

"Siapa yang tak ingin menikah? Saya ingin sekali menikah. Tapi jalan hidup orangkan tak sama. Ada yang cepat bertemu dengan jodohnya, ada yang lama seperti saya, yang masih terus bersabar dan tak ingin berputus asa. Dengan keyakinan Allah akan memberikan jodoh terbaik."

"Apa kalian tahu, banyak usaha yang dilakukan, tapi Allah belum menakdirkan, bukankah manusia itu tugasnya berdoa dan berusaha? Namun hasil adalah ketentuan muthlak dari Allah."

Kalian yang terlebih dulu menikah, serta menemukan pasangan yang tepat, bukankah seharusnya menyibukkan diri untuk banyak bersyukur? Bukan sibuk mempersoalkan hidup orang lain.

"Sedang saya yang masih melajang, tak ingin iri walau sedikit, dengan kehidupan kalian, saya hanya ingin sibuk memperbaiki diri. Nanti menagih janji Allah, bahwa perempuan baik-baik akan dipasangkan dengan laki-laki baik pula."

"Kamu udah punya pacar?"

"Saya tidak pacaran."

"Jiah, payahlah."

"Kalau memang tradisi tahap awal menikah adalah pacaran, biarlah saya menjomlo sampai mati."

"Rasanya saya semakin malas menjelaskan, lagian orang yang bertanya belum tentu ingin jawaban, kadang sebuah pertanyaan, cuma basa basi, atau sekadar ingin menyakiti, sedikit yang murni peduli."

Banyak akhirnya menikah hanya karena lelah atas pertanyaan orang-orang.
Ada juga menikah karena merasa tersakiti dengan cemohan.
Menikah jadi sangat mendesak karena tak tahan atas perkataan dan sikap buruk orang.

"Suatu hari, saya yakin akan menikah. Ntah pun di dunia ini, atau di akhirat nanti. Biarlah misteri akan mengungkap tabirnya sendiri, seperti yang sudah digariskan Ilhahi."


Momiji, 6 Maret 2020
Di bagian bumi antah berantah.




Kamis, 05 Maret 2020

Berada Di Titik Terendah (lagi)

07.25 0 Comments
Sumber: infojepang.net

Saat kembali ke titik jenuh, pertanyaan kenapa aku harus di sini, belum juga menemukan jawaban.

Berkali-kali keresahaan ini menghampiri, aku merasa sendiri menghadapi.

Bahkan sekarang aku meragukan kesanggupan diri, bisakah aku lewati semua kesulitan?

Rasa sesak di dada memenuhi, seperti ada yang tersekat di tenggorokkan, sudah kutahan-tahan sebisa mungkin. Sungguh bukan ini yang kuingin.

Seakan berada di dalam labirin dan mulai kehabisan tenaga mencari jalan keluar.

Ya Rabbi, aku sedang tak ingin apa-apa selain pergi jauh ke tempat yang lain.


(Momiji, 5 Maret 2020)
Di bagian bumi antah berantah.

Rabu, 26 Februari 2020

Beli Laptop Bekas, Why Not?

08.32 0 Comments


Sumber gambar:pinterest,com

Beli barang bekas wort it, nggak sih?


Ini tentang pengalaman saya beli laptop bekas, dua bulan lalu. Sebelumnya sama sekali nggak kepikiran untuk membeli, karena dalam banyak hal, biasanya saya usahakan beli barang baru daripada beli produk pemakaian kedua alias second. Meski harus puas dengan kualitas rendah karena kondisi dompet, yang penting baru.

Kalau sekarang, cara berpikir agak lain, yang jelas saat memutuskan beli laptop bekas, why not kan ya?

Waktu itu, sempat kecewa beli laptop baru yang harganya murah, tapi dari awal pemakaian saya sering mengeluh. (Padahal belinya offline, lho)

Pembelian secara online memaksa saya untuk lebih hati-hati, sebelum membeli.


Saya cari info sebanyak mungkin, bahkan berkali-kali, mengamati untuk memastikan. Seperti membaca banyak review produk adalah hal yang perlu dilakukan saat membeli barang secara online.
Saya lebih percaya komentar orang yang sudah mengalami, daripada kalimat iklan yang menggiurkan.

Tinggal di wilayah tertinggal tingkat II membuat saya lebih sering belanja online daripada offline. Ntah itu sekadar beli makanan, barang-barang kecil, maupun besar seperti tilam busa, serta laptop yang amat rentan keselamatannya selama perjalanan. Alhamdulillah, sejauh ini aman-aman aja dan belum pernah merasa kapok belanja online. Semoga begitu seterusnya.

Beli laptop di toko mana?


Setelah ngubek-ngubek, menghabiskan satu purnama, akhirnya, nemu satu toko yang buat yakin, padahal kalau dilihat harga sedikit tinggi dibanding toko-toko lain. Alasannya yang menguatkan karena mereka mengklaim bahwa produk yang dijual adalah produk original, memastikan barang dalam kondisi sehat siap pakai, serta melakukan dua kali pemeriksaan sebelum barang dikirim ke pembeli.
Saya beli di toko ini atau bisa kunjungi akun instagram @gadgethouse.laptop (bukan job endorse nih, cuma ingin berbagi)

Selama pemakaian dua bulan ini, saya puas, touchpad solid dan responsif, nyaman digunakan. overall bagus deh, kondisi baterai juga prima. Pokoknya sesuai harapan. Apalagi saat rekan kerja yang paham dunia per-laptop-an bilang bagus, saya pun bersyukur.

Ternyata barang lama belum tentu ketinggalan zaman, laptop keluaran tahun 2012 yang saya beli ini, performanya nggak kalah canggih sama laptop keluaran terbaru yang harga ekonomis. Cuma kalah di-body aja. Secara laptop sekarang body-nya slim.

Alhamdulillah akhirnya saya punya laptop yang bisa diajak kerjasama.

Dell Lattitude E5440
(karena belum sempat ambil gambar laptop sendiri, ini gambar saya ambil dari google. Merk dan tipe sama).

Semoga ada kebaikan yang dapat diambil dari pengalaman saya yang sederhana ini ya.





Selasa, 11 Februari 2020

Bincang-Bincang, 11 februari 2020

07.13 2 Comments
"Buk, saya sering diganggu kawan-kawan, mereka terang-terangan bilang nggak suka sama saya, saya harus gimana, Buk? Saya ngerasa semua jadi serba salah."

Apa boleh buat, di bumi ini selalu ada mereka yang usil yang sukanya menjatuhkan bukan mendukung.
Apa boleh buat, mereka yang suka mengkerdilkan orang lain selalu bertebaran di mana-mana. Sampai dunia ini berakhir barulah mereka berakhir.

Tapi sebelum terlalu jauh membahas mereka, jangan-jangan kita juga bagian dari mereka, bisa jadi tanpa disadari melakukan hal yang serupa. Kitalah yang tahu persis siapa kitakan, Yun?

Ini saatnya melihat diri sendiri, kejadian di alam semesta ini berlaku hukum sebab-akibat, jangan-jangan saat kita di dekatkan Allah dengan orang-orang yang buruk, barangkali itu adalah sebuah teguran. Bisa jadi.

Dengan muhasabah kita akan menemukan bagian mana yang harus kita perbaiki. Fokus untuk pembenahan diri. Kita bisa mengendalikan pikiran sendiri, tapi tidak pikiran orang lainkan?

Bingung mulai dari mana?

Mulailah dengan mengendalikan pikiran negatif, ubah menjadi positif. Dan itu semua tak mudah, perlu latihan berkali-kali (saya juga masih terus berlatih), sibuk mengevaluasi diri, belajar lebih banyak, bekerja lebih keras, sampai yang terpikir adalah bagaimana kita lebih baik dari hari ke hari.

(SuciWidya)

Minggu, 09 Februari 2020

Tak ada cara yang paling ampuh untuk menjaga kewarasan selain mendekati Allah ‘Azza wa Jalla

00.41 0 Comments

Sumber gambar: https://www.pinterest.de/pin/445926800584613382/
Hidup selalu punya pilihan, bahkan tidak memilih adalah pilihan. Jika langkah telah ditentukan, tentu ada ujian, ada sesuatu yang mungkin menjadi risiko. Dan lawan terberat dalam menjalani hidup adalah diri sendiri.

Setiap manusia memiliki cerita hidup masing-masing. Seseorang seharusnya tidak berhak mencampuri urusan orang lain tanpa diminta. Kecuali pada kasus tertentu untuk tujuan kemaslahatan. Bukankah kehidupan ini terasa menyenangkan jika demikian?
Skenario terbaik kisah manusia adalah takdir yang sudah ditetapkan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada hambanya. Sebab itu, aku terus belajar untuk bersyukur dalam keadaan bagaimanapun. Pikiran negatif yang menyerang setiap hari harus segera dihadang, meski tak jarang aku tumbang karenanya. Tapi semuanya belum berakhir, perjuangan berlanjut.
“Ya Rabb, bantulah aku untuk tak berputus asa atas RahmatMu.”

***                                      
Pilihan pertamaku, tak ada istilah pacaran sebelum pernikahan. Diusia yang cukup dewasa, aku masih berupaya keras dalam hal ini. Menjaga interaksi sehat terhadap lawan jenis. Tak sedikit yang mengatakan aku menutup diri atau kaku dalam pergaulan. Mau apalagi jika ada yang berpikiran demikian, aku tak mungkin bisa mengendalikan pikiran orang lainkan? Dan mendekati Allah adalah cara menjaga kewarasan.
Jika hanya dihadapkan dua pilihan, tak menikah atau menikah dengan jalan yang salah. Aku akan memilih tak menikah. Dengan perantara hadits ini yang membuatku tenang.
“Sesungguhnya tidaklah engkau meninggalkan sesuatu karena ketakwaan kepada Allah Ta’ala, kecuali Allah pasti akan memberikan sesuatu sebagai pengganti yang lebih baik darinya.” (HR. Ahmad)

Pilihan keduaku, mengubah gaya hidup. Saat ini, pelan-pelan mengubah pola makan. Motivasi karena ingin sehat. Berarti sebelumnya sakit ya? Iya. Sistem pencernaanku bermasalah, akhirnya mulai memengaruhi kondisi kesehatan. Sudah berjalan lima bulan, masih terus belajar memahami tubuh. Perubahan positif yang kurasakan membuat hari-hari lebih bersemangat. Selain pola makan, pola istirahat serta olahraga juga mulai diperbaiki. Alhamdulillah saat mood swing aku tahu harus melakukan apa.
Sejauh ini tantangannya macam-macam. Faktor internal yang paling utama. Adapun eksternal sebenarnya tak menjadi masalah kalau bisa mengendalikan diri. Tentu kerja keras tak akan mengkhianati hasilkan? Selalu ada perjuangan untuk capaian yang diinginkan.

Pilihan ketigaku, hidup sealami mungkin, hidup sesederhana mungkin. Belajar terus-menerus untuk menerapkan ilmu syukur, sabar, ikhlas, juga bersemangat mengejar impian. Jelas tak sederhana melakukannya. Sebab itu manusia tak boleh berhenti belajarkan?