Rabu, 26 Februari 2020

Beli Laptop Bekas, Why Not?

08.32 0 Comments


Sumber gambar:pinterest,com

Beli barang bekas wort it, nggak sih?


Ini tentang pengalaman saya beli laptop bekas, dua bulan lalu. Sebelumnya sama sekali nggak kepikiran untuk membeli, karena dalam banyak hal, biasanya saya usahakan beli barang baru daripada beli produk pemakaian kedua alias second. Meski harus puas dengan kualitas rendah karena kondisi dompet, yang penting baru.

Kalau sekarang, cara berpikir agak lain, yang jelas saat memutuskan beli laptop bekas, why not kan ya?

Waktu itu, sempat kecewa beli laptop baru yang harganya murah, tapi dari awal pemakaian saya sering mengeluh. (Padahal belinya offline, lho)

Pembelian secara online memaksa saya untuk lebih hati-hati, sebelum membeli.


Saya cari info sebanyak mungkin, bahkan berkali-kali, mengamati untuk memastikan. Seperti membaca banyak review produk adalah hal yang perlu dilakukan saat membeli barang secara online.
Saya lebih percaya komentar orang yang sudah mengalami, daripada kalimat iklan yang menggiurkan.

Tinggal di wilayah tertinggal tingkat II membuat saya lebih sering belanja online daripada offline. Ntah itu sekadar beli makanan, barang-barang kecil, maupun besar seperti tilam busa, serta laptop yang amat rentan keselamatannya selama perjalanan. Alhamdulillah, sejauh ini aman-aman aja dan belum pernah merasa kapok belanja online. Semoga begitu seterusnya.

Beli laptop di toko mana?


Setelah ngubek-ngubek, menghabiskan satu purnama, akhirnya, nemu satu toko yang buat yakin, padahal kalau dilihat harga sedikit tinggi dibanding toko-toko lain. Alasannya yang menguatkan karena mereka mengklaim bahwa produk yang dijual adalah produk original, memastikan barang dalam kondisi sehat siap pakai, serta melakukan dua kali pemeriksaan sebelum barang dikirim ke pembeli.
Saya beli di toko ini atau bisa kunjungi akun instagram @gadgethouse.laptop (bukan job endorse nih, cuma ingin berbagi)

Selama pemakaian dua bulan ini, saya puas, touchpad solid dan responsif, nyaman digunakan. overall bagus deh, kondisi baterai juga prima. Pokoknya sesuai harapan. Apalagi saat rekan kerja yang paham dunia per-laptop-an bilang bagus, saya pun bersyukur.

Ternyata barang lama belum tentu ketinggalan zaman, laptop keluaran tahun 2012 yang saya beli ini, performanya nggak kalah canggih sama laptop keluaran terbaru yang harga ekonomis. Cuma kalah di-body aja. Secara laptop sekarang body-nya slim.

Alhamdulillah akhirnya saya punya laptop yang bisa diajak kerjasama.

Dell Lattitude E5440
(karena belum sempat ambil gambar laptop sendiri, ini gambar saya ambil dari google. Merk dan tipe sama).

Semoga ada kebaikan yang dapat diambil dari pengalaman saya yang sederhana ini ya.





Selasa, 11 Februari 2020

Saat Ada Orang yang Tidak Menyukai, Apa yang Harus Saya Lakukan?

07.13 2 Comments

"Buk, saya sering diganggu kawan-kawan, mereka terang-terangan bilang nggak suka sama saya, saya harus gimana, Buk? Saya ngerasa semua jadi serba salah."

Apa boleh buat, di bumi ini selalu ada mereka yang usil yang sukanya menjatuhkan bukan mendukung.
Apa boleh buat, mereka yang suka mengkerdilkan orang lain selalu bertebaran di mana-mana. Sampai dunia ini berakhir barulah mereka berakhir.

Tapi sebelum terlalu jauh membahas mereka, jangan-jangan kita juga bagian dari mereka, bisa jadi tanpa disadari melakukan hal yang serupa. Kitalah yang tahu persis siapa kitakan, Yun?

Ini saatnya melihat diri sendiri, kejadian di alam semesta ini berlaku hukum sebab-akibat, jangan-jangan saat kita di dekatkan Allah dengan orang-orang yang buruk, barangkali itu adalah sebuah teguran. Bisa jadi.

Dengan muhasabah kita akan menemukan bagian mana yang harus kita perbaiki. Fokus untuk pembenahan diri. Kita bisa mengendalikan pikiran sendiri, tapi tidak pikiran orang lainkan?

Bingung mulai dari mana?

Mulailah dengan mengendalikan pikiran negatif, ubah menjadi positif. Dan itu semua tak mudah, perlu latihan berkali-kali (saya juga masih terus berlatih), sibuk mengevaluasi diri, belajar lebih banyak, bekerja lebih keras, sampai yang terpikir adalah bagaimana kita lebih baik dari hari ke hari.



Minggu, 09 Februari 2020

Bagaimana Caranya Menjaga Kewarasan?

00.41 0 Comments

Sumber gambar: https://www.pinterest.de/pin/445926800584613382/
Hidup selalu punya pilihan, bahkan tidak memilih adalah pilihan. Jika langkah telah ditentukan, tentu ada ujian, ada sesuatu yang mungkin menjadi risiko. Dan lawan terberat dalam menjalani hidup adalah diri sendiri.

Setiap manusia memiliki cerita hidup masing-masing. Seseorang seharusnya tidak berhak mencampuri urusan orang lain tanpa diminta. Kecuali pada kasus tertentu untuk tujuan kemaslahatan. Bukankah kehidupan ini terasa menyenangkan jika demikian?
Skenario terbaik kisah manusia adalah takdir yang sudah ditetapkan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada hambanya. Sebab itu, aku terus belajar untuk bersyukur dalam keadaan bagaimanapun. Pikiran negatif yang menyerang setiap hari harus segera dihadang, meski tak jarang aku tumbang karenanya. Tapi semuanya belum berakhir, perjuangan berlanjut.
“Ya Rabb, bantulah aku untuk tak berputus asa atas RahmatMu.”

***   
                                   
Pilihan pertamaku, tak ada istilah pacaran sebelum pernikahan. Diusia yang cukup dewasa, aku masih berupaya keras dalam hal ini. Menjaga interaksi sehat terhadap lawan jenis. Tak sedikit yang mengatakan aku menutup diri atau kaku dalam pergaulan. Mau apalagi jika ada yang berpikiran demikian, aku tak mungkin bisa mengendalikan pikiran orang lainkan? Dan mendekati Allah adalah cara menjaga kewarasan.
Jika hanya dihadapkan dua pilihan, tak menikah atau menikah dengan jalan yang salah. Aku akan memilih tak menikah. Dengan perantara hadits ini yang membuatku tenang.

“Sesungguhnya tidaklah engkau meninggalkan sesuatu karena ketakwaan kepada Allah Ta’ala, kecuali Allah pasti akan memberikan sesuatu sebagai pengganti yang lebih baik darinya.” (HR. Ahmad)

Pilihan keduaku, mengubah gaya hidup. Saat ini, pelan-pelan mengubah pola makan. Motivasi karena ingin sehat. Berarti sebelumnya sakit ya? Iya. Sistem pencernaanku bermasalah, akhirnya mulai memengaruhi kondisi kesehatan. Sudah berjalan lima bulan, masih terus belajar memahami tubuh. Perubahan positif yang kurasakan membuat hari-hari lebih bersemangat. Selain pola makan, pola istirahat serta olahraga juga mulai diperbaiki. Alhamdulillah saat mood swing aku tahu harus melakukan apa.
Sejauh ini tantangannya macam-macam. Faktor internal yang paling utama. Adapun eksternal sebenarnya tak menjadi masalah kalau bisa mengendalikan diri. Tentu kerja keras tak akan mengkhianati hasilkan? Selalu ada perjuangan untuk capaian yang diinginkan.

Pilihan ketigaku, hidup sealami mungkin, hidup sesederhana mungkin. Belajar terus-menerus untuk menerapkan ilmu syukur, sabar, ikhlas, juga bersemangat mengejar impian. Jelas tak sederhana melakukannya. Sebab itu manusia tak boleh berhenti belajarkan?