Selasa, 11 Februari 2020

Bincang-Bincang, 11 februari 2020

07.13 2 Comments
"Buk, saya sering diganggu kawan-kawan, mereka terang-terangan bilang nggak suka sama saya, saya harus gimana, Buk? Saya ngerasa semua jadi serba salah."

Apa boleh buat, di bumi ini selalu ada mereka yang usil yang sukanya menjatuhkan bukan mendukung.
Apa boleh buat, mereka yang suka mengkerdilkan orang lain selalu bertebaran di mana-mana. Sampai dunia ini berakhir barulah mereka berakhir.

Tapi sebelum terlalu jauh membahas mereka, jangan-jangan kita juga bagian dari mereka, bisa jadi tanpa disadari melakukan hal yang serupa. Kitalah yang tahu persis siapa kitakan, Yun?

Ini saatnya melihat diri sendiri, kejadian di alam semesta ini berlaku hukum sebab-akibat, jangan-jangan saat kita di dekatkan Allah dengan orang-orang yang buruk, barangkali itu adalah sebuah teguran. Bisa jadi.

Dengan muhasabah kita akan menemukan bagian mana yang harus kita perbaiki. Fokus untuk pembenahan diri. Kita bisa mengendalikan pikiran sendiri, tapi tidak pikiran orang lainkan?

Bingung mulai dari mana?

Mulailah dengan mengendalikan pikiran negatif, ubah menjadi positif. Dan itu semua tak mudah, perlu latihan berkali-kali (saya juga masih terus berlatih), sibuk mengevaluasi diri, belajar lebih banyak, bekerja lebih keras, sampai yang terpikir adalah bagaimana kita lebih baik dari hari ke hari.

(SuciWidya)

Minggu, 09 Februari 2020

Tak ada cara yang paling ampuh untuk menjaga kewarasan selain mendekati Allah ‘Azza wa Jalla

00.41 0 Comments

Sumber gambar: https://www.pinterest.de/pin/445926800584613382/
Hidup selalu punya pilihan, bahkan tidak memilih adalah pilihan. Jika langkah telah ditentukan, tentu ada ujian, ada sesuatu yang mungkin menjadi risiko. Dan lawan terberat dalam menjalani hidup adalah diri sendiri.

Setiap manusia memiliki cerita hidup masing-masing. Seseorang seharusnya tidak berhak mencampuri urusan orang lain tanpa diminta. Kecuali pada kasus tertentu untuk tujuan kemaslahatan. Bukankah kehidupan ini terasa menyenangkan jika demikian?
Skenario terbaik kisah manusia adalah takdir yang sudah ditetapkan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada hambanya. Sebab itu, aku terus belajar untuk bersyukur dalam keadaan bagaimanapun. Pikiran negatif yang menyerang setiap hari harus segera dihadang, meski tak jarang aku tumbang karenanya. Tapi semuanya belum berakhir, perjuangan berlanjut.
“Ya Rabb, bantulah aku untuk tak berputus asa atas RahmatMu.”

***                                      
Pilihan pertamaku, tak ada istilah pacaran sebelum pernikahan. Diusia yang cukup dewasa, aku masih berupaya keras dalam hal ini. Menjaga interaksi sehat terhadap lawan jenis. Tak sedikit yang mengatakan aku menutup diri atau kaku dalam pergaulan. Mau apalagi jika ada yang berpikiran demikian, aku tak mungkin bisa mengendalikan pikiran orang lainkan? Dan mendekati Allah adalah cara menjaga kewarasan.
Jika hanya dihadapkan dua pilihan, tak menikah atau menikah dengan jalan yang salah. Aku akan memilih tak menikah. Dengan perantara hadits ini yang membuatku tenang.
“Sesungguhnya tidaklah engkau meninggalkan sesuatu karena ketakwaan kepada Allah Ta’ala, kecuali Allah pasti akan memberikan sesuatu sebagai pengganti yang lebih baik darinya.” (HR. Ahmad)

Pilihan keduaku, mengubah gaya hidup. Saat ini, pelan-pelan mengubah pola makan. Motivasi karena ingin sehat. Berarti sebelumnya sakit ya? Iya. Sistem pencernaanku bermasalah, akhirnya mulai memengaruhi kondisi kesehatan. Sudah berjalan lima bulan, masih terus belajar memahami tubuh. Perubahan positif yang kurasakan membuat hari-hari lebih bersemangat. Selain pola makan, pola istirahat serta olahraga juga mulai diperbaiki. Alhamdulillah saat mood swing aku tahu harus melakukan apa.
Sejauh ini tantangannya macam-macam. Faktor internal yang paling utama. Adapun eksternal sebenarnya tak menjadi masalah kalau bisa mengendalikan diri. Tentu kerja keras tak akan mengkhianati hasilkan? Selalu ada perjuangan untuk capaian yang diinginkan.

Pilihan ketigaku, hidup sealami mungkin, hidup sesederhana mungkin. Belajar terus-menerus untuk menerapkan ilmu syukur, sabar, ikhlas, juga bersemangat mengejar impian. Jelas tak sederhana melakukannya. Sebab itu manusia tak boleh berhenti belajarkan?