Rabu, 25 Maret 2020

Benarkah Masalah Orang Dewasa Lebih Rumit?

Sumber: pinterest.com

"Biasalah masalah anak-anak, kok."

Beberapa orangtua masih menganggap remeh masalah yang dihadapi anak-anak. Saat anak mulai terlibat percekcokan dengan teman sebaya, atau menunjukkan sikap dekstruktif, orangtua mulai marah kepada mereka, melerai, tapi tidak berusaha mencari akar masalah dan memberi solusi yang tepat, memberikan pemahaman yang baik, sebagai tindakan pencegahan aksi yang lebih ekstrim.

Orang dewasa sering berpikir masalah yang tengah dihadapinya lebih rumit daripada masalah yang dihadapi remaja atau bahkan anak-anak. Benarkah pendapat semacam itu? 
Bukankah tidak ada masalah kecil atau remeh, setiap masalah sudah sesuai dengan takaran masing-masing? Dan setiap masalah membutuhkan jalan penyelesaian. 

Bisa saja karena sikap acuh tak acuh orangtua, anak mulai mengambil tindakan sendiri yang mungkin akan merugikan dirinya atau orang lain. Baru-baru ini kita dikejutkan kasus anak perempuan berusia 15 tahun membunuh anak berusia 6 tahun dengan sadis, di kawasan Sawah Besar Jakarta Pusat, pada kamis (5/03/2020). (Dikutip dari media suara.com). Melihat kondisi ini, orangtua harus lebih ekstra mengawasi perilaku anak-anak. Agar hari-hari kedepan, anak -anak tumbuh dengan semestinya, dipenuhi hal-hal yang membahagiakan, sehingga menjadi pribadi yang positif. 

Ada sebuah kasus:
"Seorang anak menggigit temannya karena Ia kesal temannya tidak mau berbagi dan main bersama. Padahal hari-hari Ia termasuk anak baik, yang suka berbagi. Tapi karena Ia tidak mendapatkan perlakuan yang sama, Ia tak bisa mengendalikan emosi marah."

Nampaknya sederhana ya kasus diatas? Tapi itu adalah cikal bakal permasalahan yang lebih serius. Jika kondisi itu terjadi berulangkali, dan si anak juga tidak mampu menanggapi dengan positif, maka akan memengaruhi karakternya. Yang tadinya Ia suka berbagi, karena kesal, mulai muncul hasrat balas dendam, bisa jadi Ia melakukan hal yang serupa. 

Lebih mudah belajar dari pengalaman, entah itu pengalaman yang baik atau buruk. Setiap pengalaman adalah pelajaran hidup. Dan anak-anak juga akan belajar dengan kemampuan berpikirnya yang terbatas. 

Nah, jadi orangtua ternyata tidak gampang ya? Butuh pembekalan ilmu yang mumpuni. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar