Jumat, 06 Maret 2020

Bukan Tak Ingin Menikah, Takdirlah yang belum Tiba.

Sumber gambar: carabaruq.com

"...nikahlah, nikah..."
Sering kali ujung obrolan ditutup dengan himbauan untuk segera menikah.

"Alhamdulillah, saya masih tertarik dengan lawan jenis, tidak ada masalah orientasi sex."

"Nikahlah!"

"Siapa yang tak ingin menikah? Saya ingin sekali menikah. Tapi jalan hidup orangkan tak sama. Ada yang cepat bertemu dengan jodohnya, ada yang lama seperti saya, yang masih terus bersabar dan tak ingin berputus asa. Dengan keyakinan Allah akan memberikan jodoh terbaik."

"Apa kalian tahu, banyak usaha yang dilakukan, tapi Allah belum menakdirkan, bukankah manusia itu tugasnya berdoa dan berusaha? Namun hasil adalah ketentuan muthlak dari Allah."

Kalian yang terlebih dulu menikah, serta menemukan pasangan yang tepat, bukankah seharusnya menyibukkan diri untuk banyak bersyukur? Bukan sibuk mempersoalkan hidup orang lain.

"Sedang saya yang masih melajang, tak ingin iri walau sedikit, dengan kehidupan kalian, saya hanya ingin sibuk memperbaiki diri. Nanti menagih janji Allah, bahwa perempuan baik-baik akan dipasangkan dengan laki-laki baik pula."

"Kamu udah punya pacar?"

"Saya tidak pacaran."

"Jiah, payahlah."

"Kalau memang tradisi tahap awal menikah adalah pacaran, biarlah saya menjomlo sampai mati."

"Rasanya saya semakin malas menjelaskan, lagian orang yang bertanya belum tentu ingin jawaban, kadang sebuah pertanyaan, cuma basa basi, atau sekadar ingin menyakiti, sedikit yang murni peduli."

Banyak akhirnya menikah hanya karena lelah atas pertanyaan orang-orang.
Ada juga menikah karena merasa tersakiti dengan cemohan.
Menikah jadi sangat mendesak karena tak tahan atas perkataan dan sikap buruk orang.

"Suatu hari, saya yakin akan menikah. Ntah pun di dunia ini, atau di akhirat nanti. Biarlah misteri akan mengungkap tabirnya sendiri, seperti yang sudah digariskan Ilhahi."


Momiji, 6 Maret 2020
Di bagian bumi antah berantah.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar